Korea Utara Tolak Denuklirisasi AS, Pyongyang Percepat Ledakan Kekuatan Nuklir

Korea Utara kembali memberi sinyal bahwa tekanan Amerika Serikat untuk denuklirisasi tidak akan diikuti. Kim Yo Jong, saudari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyebut dorongan itu sebagai “mimpi anachronistic” dan menegaskan Pyongyang akan terus memperbesar persenjataan nuklirnya.

Nada keras itu muncul saat ketegangan soal program nuklir Korea Utara kembali menonjol. Pernyataan tersebut juga datang sehari sebelum Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Korea Utara untuk bertemu Kim Jong Un, dalam kunjungan pertamanya ke Pyongyang dalam tujuh tahun.

Penolakan terhadap tekanan Washington

Kim Yo Jong mengatakan klaim Amerika Serikat yang ingin menggoyahkan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Ia menegaskan tidak ada pihak yang akan terikat oleh retorika sepihak Washington.

Ia juga membantah pernyataan Amerika Serikat bahwa Donald Trump dan Xi Jinping telah menegaskan tujuan bersama untuk mendenuklirisasi Korea Utara dalam pertemuan mereka di Beijing bulan lalu. Kim menyebut informasi itu palsu dan menuduh sejumlah pejabat Amerika Serikat belum bangun dari “mimpi yang eskapistis dan kuno.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Pyongyang belum menunjukkan tanda melunak. Di saat yang sama, Korea Utara kembali menempatkan status nuklir sebagai bagian inti dari posisi politik dan keamanannya.

Program nuklir terus dipacu

Sejak diplomasi tingkat tinggi Kim Jong Un dengan Trump gagal pada 2019, Korea Utara disebut fokus memperbesar persenjataan nuklirnya. Para analis menilai Kim ingin memperoleh pengakuan internasional sebagai negara nuklir agar bisa menekan pencabutan sanksi ekonomi internasional.

Dalam kunjungan ke pabrik produksi bahan nuklir baru pekan lalu, Kim Jong Un mengatakan kekuatan nuklir negaranya akan diperkuat dengan laju “eksponensial.” Media pemerintah Korea Utara juga melaporkan bahwa Kim mengunjungi pabrik senjata pada hari sebelumnya dan meminta kapasitas produksi rudal dinaikkan 2,5 kali lipat selama periode rencana lima tahun.

Langkah itu menegaskan bahwa fokus Pyongyang bukan meredakan program militernya. Sebaliknya, Korea Utara terus menempatkan perluasan kemampuan nuklir sebagai prioritas strategis.

Pesan untuk AS dan Korea Selatan

Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong menuduh Amerika Serikat dan Korea Selatan mendorong “penumpukan senjata tanpa henti.” Ia menyebut penguatan “deterrent perang nuklir” untuk pertahanan diri sebagai “kesimpulan akhir yang tidak dapat dibatalkan” dan harus dijalankan tanpa syarat.

Bahasa itu menunjukkan Pyongyang memandang pengembangan nuklir sebagai langkah defensif yang final. Di sisi lain, pernyataan tersebut menjadi pesan langsung bahwa tuntutan denuklirisasi dari Washington tidak akan mengubah arah kebijakan Korea Utara.

Kunjungan Xi dan kalkulasi Beijing

Para analis menilai kunjungan Xi ke Korea Utara terutama bertujuan menegaskan kembali pengaruh China atas Pyongyang. Mereka menyebut prioritas kebijakan luar negeri Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir telah bergeser ke Rusia, sehingga Beijing ingin mengembalikan posisinya.

Menurut para analis, Xi kemungkinan tidak akan secara langsung mengangkat isu denuklirisasi dalam pertemuannya dengan Kim Jong Un. Mereka memperkirakan China akan menawarkan program bantuan ekonomi sebagai bagian dari pembicaraan tersebut.

Kunjungan itu menjadi penting karena hadir di tengah meningkatnya perhatian terhadap program nuklir Korea Utara. Bagi Beijing, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk membaca ulang arah politik Pyongyang di tengah persaingan pengaruh regional.

Dukungan dari Moskow menambah ruang gerak Pyongyang

Korea Utara telah mengirim pasukan dan senjata konvensional untuk mendukung perang Rusia melawan Ukraina. Pejabat Korea Selatan dan Amerika Serikat mengatakan Korea Utara menerima bantuan ekonomi dan bantuan lain dari Rusia sebagai imbalannya.

Hubungan itu menambah lapisan baru dalam kalkulasi politik Pyongyang di tengah tekanan Barat. Saat Washington tetap mendorong denuklirisasi, Korea Utara justru menegaskan bahwa perluasan kekuatan nuklirnya akan terus berjalan.

Terkait