Gorontalo Bikin Kontingen KTNA Jawa Barat Melirik Cara Jagung Jadi Bernilai Lebih

Author: Cung Media

Kontingen Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XVII 2026 dari Jawa Barat datang ke Gorontalo dengan satu perhatian utama: bagaimana jagung bisa memberi nilai tambah yang lebih besar bagi petani. Di daerah ini, mereka melihat jagung tidak berhenti di kebun, tetapi masuk ke jalur pemasaran dan olahan turunan yang membuat komoditas itu punya daya saing lebih kuat.

Wakil Ketua I Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat, Asep Halim, menilai Gorontalo punya posisi yang menarik sebagai daerah yang dikenal sebagai Provinsi Jagung. Menurut dia, keunggulan itu bukan hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan menjual jagung ke luar daerah dan mengembangkan produk turunannya.

Hilirisasi Jadi Poin yang Dipelajari

Asep menyebut budidaya jagung di Gorontalo dan Jawa Barat pada dasarnya tidak jauh berbeda. Namun, ia melihat Gorontalo lebih menonjol dalam pemasaran dan hilirisasi, sehingga jagung bisa bergerak melampaui bentuk bahan mentah.

“Kalau di budidaya mungkin hampir sama, tetapi di sini kelebihannya pada pemasaran. Gorontalo sudah bisa memasarkan jagung keluar daerah. Kemudian turunan dari jagungnya juga sudah dibuat menjadi berbagai olahan,” kata Asep di sela kegiatan Penas KTNA XVII di Gorontalo.

Pengalaman itu menjadi penting bagi kontingen Jawa Barat karena memberi gambaran bagaimana petani bisa memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari komoditas yang sama. Bagi mereka, proses hilirisasi dan pemasaran menjadi kunci yang patut dilihat langsung agar bisa dipahami dan diterapkan di daerah sendiri.

Pola Pemanfaatan di Jawa Barat Masih Berbeda

Kondisi di Jawa Barat dinilai masih punya karakter yang lain. Sebagian besar jagung di provinsi itu terserap untuk kebutuhan pakan ternak, seiring tingginya populasi ternak unggas dan ternak besar.

“Kalau di Jawa Barat kebanyakan jagung digunakan untuk pakan ternak. Di sini kelihatannya sudah ada produk turunannya selain dijual dalam bentuk jagung kering,” ujarnya.

Perbedaan pola pemanfaatan itu membuat Gorontalo menarik sebagai rujukan belajar. Kontingen Jawa Barat melihat tidak hanya aspek budidaya yang perlu dicermati, tetapi juga cara membangun pasar dan agribisnis jagung agar manfaatnya lebih luas bagi petani.

Forum Penas KTNA Jadi Ruang Bertukar Praktik

Selain mengikuti agenda wajib Penas KTNA seperti rembuk utama, temu profesi, temu usaha, dan gelar teknologi, peserta dari Jawa Barat juga ingin menggali praktik pengembangan jagung di daerah tuan rumah. Forum ini dipandang sebagai ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus mencari inovasi yang bisa dibawa pulang.

Kontingen Jawa Barat yang hadir berjumlah 125 orang. Jumlah itu lebih sedikit dibanding penyelenggaraan Penas sebelumnya yang biasanya diikuti lebih dari 300 peserta, karena sebagian besar berangkat secara swadaya di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

Melalui keikutsertaan itu, para peserta berharap bisa menyerap pengetahuan baru dari petani berbagai daerah. Target utamanya tetap sama, yakni membawa pulang praktik yang relevan untuk diterapkan di wilayah masing-masing, terutama dalam penguatan pemasaran dan pengolahan jagung.

Source: gorontalo.antaranews.com
Terbaru