Pembinaan olahraga prestasi di Indonesia mulai diarahkan ke medan baru yang tidak hanya mengandalkan fisik, tetapi juga data, teknologi, dan strategi. KONI Pusat resmi memperkenalkan Sports Intelligence sebagai konsep yang disebut akan mengubah cara membaca kekuatan lawan dan merancang pembinaan atlet nasional.
Peluncuran konsep itu menegaskan perubahan besar dalam olahraga modern. Menurut Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman, kemenangan kini tidak lagi cukup ditentukan oleh performa di lapangan, karena negara juga harus unggul dalam mengolah informasi dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
Olahraga modern tak lagi sekadar soal tenaga
Marciano menilai olahraga saat ini sudah menjadi pertarungan data, teknologi, dan strategi. Dalam pandangannya, pihak yang memiliki informasi paling lengkap akan punya peluang lebih besar untuk menang.
Karena itu, KONI memperkenalkan Sports Intelligence sebagai pendekatan yang menggabungkan ilmu kepelatihan, analisis lawan, Artificial Intelligence, dan Big Data. Tujuannya adalah membuat pembinaan atlet lebih presisi dan relevan dengan kebutuhan kompetisi masa kini.
Gagasan yang dirintis sejak 2019
Marciano menjelaskan bahwa gagasan Sports Intelligence sudah mulai dirintis sejak ia menjabat Ketua Umum KONI pada 2019. Saat itu, ia melihat media memiliki peran penting dalam menghimpun informasi yang bisa dipakai untuk kepentingan pembinaan olahraga.
Dari pemikiran tersebut, KONI Pusat kemudian membentuk Bidang Sports Intelligence yang kini dituangkan dalam bentuk buku. Buku setebal lebih dari 500 halaman itu disusun atas arahan Marciano bersama empat penulis, yakni Eman Sungkowo, Syarif Hidayat, Jerry Indrawan, dan Irandito Abdul Hakim Malik.
Isi buku dan cara kerja di lapangan
Buku Sports Intelligence dibagi ke dalam 12 bab yang membahas penerapan sistem intelijen dalam pembinaan olahraga nasional. Isinya diposisikan bukan hanya sebagai bacaan akademik, tetapi juga sebagai cetak biru untuk membawa olahraga Indonesia ke level dunia.
Eman Sungkowo menjelaskan bahwa Sports Intelligence membantu pelatih dan atlet membaca kekuatan serta kelemahan lawan melalui informasi yang akurat. Dengan begitu, proses pengambilan keputusan tidak hanya bergantung pada intuisi.
| Aspek | Detail | Keterangan |
|---|---|---|
| Bentuk inisiatif | Sports Intelligence | Konsep baru KONI Pusat |
| Fokus utama | Data, teknologi, strategi | Untuk pembinaan olahraga prestasi |
| Isi buku | 12 bab | Lebih dari 500 halaman |
| Tim penulis | 4 orang | Eman Sungkowo, Syarif Hidayat, Jerry Indrawan, Irandito Abdul Hakim Malik |
Syarif Hidayat menambahkan bahwa penerapan konsep ini membutuhkan arah kebijakan yang jelas agar bisa dijalankan bertahap. Ia menilai manfaatnya baru akan terasa jika berbasis data yang relevan dan konsisten.
Jerry Indrawan menyoroti kebutuhan pusat data olahraga nasional yang terintegrasi. Menurutnya, Kementerian Pemuda dan Olahraga, KONI, dan induk cabang olahraga perlu berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung agar informasi bisa dipakai secara konsisten.
Dukungan kampus dan komitmen bersama
Peluncuran buku tersebut juga mendapat sambutan dari UNESA. Rektor UNESA Prof. Dr. Nurhasan, melalui Wakil Rektor IV Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, menilai Sports Intelligence hadir pada waktu yang tepat dan bisa menjadi rujukan penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan insan olahraga.
Dalam rangkaian acara yang sama, KONI Pusat dan UNESA memperpanjang kerja sama melalui penandatanganan nota kesepahaman. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Sports Intelligence Indonesia yang dipimpin Prof. Dr. Nurhasan dan diikuti seluruh peserta, termasuk ratusan mahasiswa.
Deklarasi itu menjadi penanda dimulainya komitmen bersama untuk membangun pembinaan olahraga nasional yang lebih modern, berbasis data, dan memanfaatkan perkembangan teknologi. Seusai acara, puluhan mahasiswa juga mendatangi Marciano Norman untuk meminta tanda tangan pada buku yang dibagikan kepada peserta.
Source: www.viva.co.id






