Konflik Timur Tengah Tekan Avtur Dunia, Tiket Pesawat Diprediksi Tetap Mahal Sepanjang 2026

Author: Cung Media

Harga tiket pesawat global diperkirakan belum akan turun dalam waktu dekat, karena konflik di Timur Tengah ikut mendorong naiknya biaya avtur dunia. Tekanan ini datang di saat maskapai juga harus menyesuaikan banyak rute penerbangan yang melintasi kawasan tersebut.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA memperkirakan harga bahan bakar jet bisa menembus 152 dollar AS per barel pada 2026. Angka itu jauh di atas level tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 100 dollar AS per barel setelah penutupan Selat Hormuz.

Beban biaya sulit sepenuhnya diserap maskapai

IATA menilai maskapai tidak akan mampu menanggung seluruh kenaikan biaya itu sendiri. Sebagian beban operasional memang biasa diserap perusahaan penerbangan, tetapi porsi terbesarnya berpotensi dialihkan ke penumpang melalui tarif tiket yang lebih mahal.

Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen, mengatakan banyak pihak masih akan menghadapi situasi ini dalam waktu yang lama. Ia juga memperkirakan tarif tiket pesawat akan tetap tinggi.

Thomsen menyoroti kapasitas kilang global yang tidak merata sebagai salah satu penghambat turunnya harga minyak. Ia menyebut ketergantungan Eropa pada impor bahan bakar dari negara-negara Teluk ikut memperlambat normalisasi harga minyak dunia.

Menurut Thomsen, butuh waktu lama sebelum harga minyak Brent kembali ke level 60 dollar AS per barel seperti yang terjadi pada Januari lalu. Tekanan itu membuat pasar penerbangan sulit mendapat ruang untuk menurunkan tarif dalam waktu dekat.

Musim perjalanan ikut menekan avtur

Kondisi avtur juga tertekan oleh gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Saat musim perjalanan meningkat, kilang minyak disebut cenderung mengalihkan kapasitas ke produksi bensin kendaraan darat.

Direktur Riset Global Fuels and Refining S&P Global, Eleanor Budds, mengatakan meningkatnya aktivitas perjalanan selama musim panas dapat membuat kilang memproduksi bensin lebih banyak dibandingkan avtur. Ia menegaskan rantai pasok logistik minyak butuh sedikitnya empat hingga lima bulan untuk pulih sepenuhnya, meski jalur pelayaran internasional kembali normal.

Budds juga mengingatkan bahwa normalnya operasional Selat Hormuz tidak otomatis membuat pasokan minyak dan bahan bakar pulih cepat. Menurut dia, sistem distribusi energi tetap memerlukan waktu untuk kembali stabil sepenuhnya.

Maskapai mulai mengubah rute

Di tengah tekanan biaya itu, perubahan jadwal penerbangan terjadi di banyak maskapai internasional. Reuters melaporkan maskapai Yunani membatalkan rute Thessaloniki-Tel Aviv hingga 26 Juni dan Dubai hingga 31 Agustus, sementara airBaltic menangguhkan penerbangan Tel Aviv hingga 28 Juni.

Air Canada juga menunda penerbangan ke Tel Aviv dan Dubai hingga 24 Oktober. Langkah serupa diambil Air Europa, maskapai Prancis, KLM, serta maskapai asal Hong Kong dan Amerika Serikat yang menggeser jadwal rute Timur Tengah mereka hingga akhir tahun.

British Airways menunda penerbangan Doha hingga 1 Agustus. Lufthansa dan ITA Airways berencana memulihkan penerbangan Tel Aviv paling cepat 1 Juli, tetapi tetap menangguhkan rute Abu Dhabi, Amman, dan Beirut hingga 24 Oktober 2026.

Perubahan jadwal ini menunjukkan gangguan di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada rute regional. Efeknya mulai merambat ke biaya bahan bakar global dan memperpanjang masa mahalnya tiket pesawat bagi pelancong di berbagai pasar.

Terbaru