5 Kondisi yang Bisa Bikin Intermittent Fasting Tidak Cocok, Banyak yang Sering Lupa

Author: Cung Media

Intermittent fasting sering dianggap sebagai cara makan yang sederhana untuk membantu menurunkan berat badan. Namun, pola ini tidak cocok untuk semua orang karena ada kondisi tertentu yang justru membutuhkan asupan lebih stabil dan cukup.

Ahli gizi Ana Reisdorf, MS, RD, Founder GLP-1 Hub, menekankan bahwa memaksakan puasa pada kondisi tertentu bisa berisiko. Beberapa kelompok perlu lebih berhati-hati sebelum ikut mencoba pola makan yang sedang populer ini.

Perempuan Hamil, Menopause, dan Perimenopause

Perempuan hamil membutuhkan nutrisi yang stabil untuk mendukung perkembangan janin. Jika waktu makan dibatasi terlalu ketat, tubuh bisa kekurangan energi dan nutrisi penting.

Ana Reisdorf juga mengingatkan bahwa perempuan yang mengalami menopause atau perimenopause perlu waspada. Perubahan hormon pada fase ini bisa semakin tidak stabil jika asupan makanan dibatasi secara ekstrem.

Diabetes Tipe 1 dan Kebutuhan Gula Darah yang Ketat

Bagi orang dengan diabetes tipe 1, kestabilan gula darah adalah prioritas utama. Pola makan yang tidak teratur, termasuk puasa dalam waktu lama, dapat memicu fluktuasi gula darah yang ekstrem.

Dalam penjelasan Ana Reisdorf, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kelelahan hingga komplikasi serius. Karena itu, intermittent fasting tidak disarankan tanpa pengawasan ketat dari tenaga medis.

Orang dengan Kebutuhan Nutrisi Tinggi

Kelompok dengan aktivitas fisik tinggi, seperti atlet atau pekerja fisik, membutuhkan energi dan protein yang cukup setiap hari. Jika waktu makan dibatasi, kebutuhan tersebut bisa sulit dipenuhi secara optimal.

Ana Reisdorf menilai kelompok ini tidak bisa underfuel atau kekurangan asupan karena dampaknya langsung terasa pada performa tubuh. Mereka lebih cocok dengan pola makan yang fleksibel.

Kelompok Alasan Perlu Berhati-hati Dampak yang Disebutkan
Perempuan hamil Butuh nutrisi stabil untuk janin Risiko kekurangan energi dan nutrisi
Menopause / perimenopause Perubahan hormon bisa makin tidak stabil Asupan yang dibatasi ekstrem berisiko
Diabetes tipe 1 Perlu kestabilan gula darah Fluktuasi ekstrem, kelelahan, komplikasi
Kebutuhan nutrisi tinggi Butuh energi dan protein yang cukup Performa tubuh bisa menurun

Orang yang Mengonsumsi Obat GLP-1

Pada orang yang memakai obat GLP-1, pola makan tetap sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Jika digabungkan dengan puasa, asupan kalori bisa menjadi terlalu rendah.

Ana Reisdorf menjelaskan, kondisi itu dapat memicu kelelahan, penurunan massa otot, hingga gangguan metabolisme. Karena itu, konsultasi dengan dokter sangat disarankan sebelum memulai pola ini.

Usia 40 Tahun ke Atas Juga Perlu Perhatian

Seiring bertambahnya usia, massa otot tubuh menurun secara alami. Pada usia 40 tahun ke atas, kebutuhan protein justru meningkat untuk menjaga kekuatan tubuh.

Menurut Ana Reisdorf, intermittent fasting bisa membuat kebutuhan itu lebih sulit terpenuhi. Jika tidak diatur dengan baik, risiko kehilangan massa otot dan penurunan metabolisme ikut meningkat.

Tren diet memang sering terlihat menarik karena menjanjikan hasil yang cepat dan mudah diikuti. Tetapi, tidak semua tubuh merespons cara yang sama, sehingga keputusan untuk mencoba intermittent fasting perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Memahami siapa saja yang sebaiknya menghindari pola ini bisa membantu orang memilih cara makan yang lebih aman dan sesuai kebutuhan tubuh. Bagi sebagian orang, menjaga kestabilan nutrisi justru jauh lebih penting daripada mengikuti tren yang sedang populer.

Terbaru