Sebuah klaster Raspberry Pi empat node menarik perhatian bukan karena ukurannya yang besar, melainkan karena tampil seperti server mini bergaya cyberpunk yang bisa diangkat dengan satu tangan. Di dalam bodi ringkas itu, komputasi, jaringan, layar pemantau, dan sistem daya digabungkan jadi satu paket yang rapi.
Yang membuat proyek ini terasa berbeda adalah cara seluruh komponennya dirancang agar mudah dirawat dan tidak terlihat seperti tumpukan board serta kabel. Hasil akhirnya lebih dekat ke perangkat jadi daripada rakitan rumahan biasa.
Rapi, ringkas, dan tetap fungsional
Proyek ini ditunjukkan oleh Michael Klements di subreddit Raspberry Pi. Ia merancang klaster tersebut dengan dua Raspberry Pi 5, dua Raspberry Pi 4, sebuah switch jaringan khusus, layar sentuh untuk pemantauan, dan satu sistem catu daya untuk seluruh unit.
Kombinasi itu membuat perangkat ini langsung siap dipakai sebagai klaster kecil dengan konektivitas jaringan dan antarmuka pemantauan. Pengguna juga tidak perlu menyiapkan monitor terpisah atau kabel daya untuk tiap node secara terpisah.
| Komponen utama | Fungsi |
|---|---|
| 2 Raspberry Pi 5 | Node komputasi |
| 2 Raspberry Pi 4 | Node komputasi |
| Switch jaringan khusus | Konektivitas internal |
| Layar sentuh | Pemantauan sistem |
| Satu sistem catu daya | Pasokan daya untuk seluruh unit |
Salah satu detail paling menarik ada pada node yang dipasang di sled atau dudukan lepas-pasang. Cara ini memudahkan tiap Raspberry Pi diganti atau diservis tanpa membongkar seluruh enclosure.
Bagi proyek klaster rumahan, pendekatan seperti itu penting karena banyak rakitan serupa sulit disentuh ulang setelah semua komponen dipasang rapat di dalam casing.
Desain yang terasa seperti produk komersial
Secara visual, klaster ini tampil berbeda dari kebanyakan proyek Raspberry Pi. Panel akrilik berwarna gelap membuat isi perangkat tetap terlihat sekaligus memberi kesan lebih rapi dan lebih matang.
Klements juga menggunakan chassis hasil pengerjaan CNC untuk membentuk bodi utamanya. Detail itu membantu menjelaskan mengapa tampilannya terasa presisi dan lebih dekat ke perangkat komersial daripada proyek DIY biasa.
Layar sentuh yang terpasang menjalankan dasbor kustom untuk menampilkan statistik sistem secara langsung. Dengan begitu, kondisi tiap node bisa dipantau dari badan perangkat itu sendiri.
Pendekatan ini membuat klaster tersebut tidak hanya enak dilihat, tetapi juga informatif saat digunakan. Dalam satu pandangan, pengguna bisa melihat aktivitas sistem tanpa harus membuka pemantauan di perangkat lain.
Bukan sekadar pajangan
Meski desainnya jadi pusat perhatian, perangkat ini tetap dibangun sebagai sistem komputasi yang fungsional. Dengan empat node aktif dan switch jaringan khusus, klaster ini bisa dipakai untuk berbagai eksperimen komputasi terdistribusi.
Klements menyebut Kubernetes sebagai pilihan penggunaan yang paling jelas untuk perangkat seperti ini. Ia juga meminta masukan dari komunitas mengenai kemungkinan pemanfaatan lain untuk seluruh perangkat keras tersebut.
Respons yang muncul justru banyak tertuju pada desain dan eksekusinya. Banyak komentator meminta agar file dan detail pembuatannya dirilis supaya mereka bisa membuat versi sendiri di rumah.
Ketertarikan itu tidak lepas dari fakta bahwa proyek ini menyatukan beberapa kebutuhan sekaligus dalam satu paket. Ada komputasi multi-node, jaringan internal, pemantauan visual, dan sistem daya terintegrasi dalam enclosure yang tetap ringkas.
Rencana rilis untuk pembuat lain
Klements mengatakan ia berencana meluncurkan proyek ini di Makerables. Namun karena chassis dibuat menggunakan mesin CNC, proses menuju rilis itu memerlukan waktu sedikit lebih lama.
Artinya, orang yang ingin meniru rakitan ini masih harus menunggu sebelum file atau panduan resminya tersedia. Sementara itu, proyek tersebut sudah cukup untuk menunjukkan sejauh mana komunitas Raspberry Pi terus mendorong batas kemampuan SBC kecil itu.
Nama Michael Klements juga sudah dikenal lewat proyek Raspberry Pi yang tidak biasa. Sebelumnya, ia pernah menunjukkan eksperimen lain dengan memasang water block pendingin pada sebuah Pi.
Latar itu membuat klaster empat node ini terasa sebagai kelanjutan yang wajar dari pendekatan eksperimennya. Fokusnya bukan hanya pada fungsi, tetapi juga pada cara membuat perangkat kecil ini tampil mencolok dan terasa serius sebagai sebuah sistem.
Untuk banyak penggemar Raspberry Pi, nilai proyek seperti ini terletak pada gabungan estetika dan rekayasa. Klaster ini membuktikan bahwa server mini tidak harus tampil berantakan, bahkan ketika isinya terdiri dari empat node, switch jaringan, layar sentuh, dan sistem daya tunggal dalam satu rangka kompak.
