Ketakutan Paling Berat Pemain Munafik Ternyata Bukan Hantu, Tapi Lokasi Syutingnya

Author: Cung Media

Ketegangan terbesar para pemain Munafik: Melawan Iblis bukan datang dari sosok gaib di layar, melainkan dari lokasi syuting yang benar-benar keras. Cuaca ekstrem, hutan pada malam hari, dan adegan fisik yang melelahkan justru menjadi tantangan paling berat selama proses produksi.

Film horor religi ini memang mengandalkan teror, tetapi tenaga emosionalnya juga besar karena cerita berpusat pada duka dan pertarungan batin Ustaz Adam. Sosok ahli ruqyah itu digambarkan berhenti menjalankan perannya setelah kehilangan istrinya, Aini, lalu kembali dipaksa menghadapi gangguan gaib yang tidak bisa ditangani orang lain.

Drama keluarga jadi fondasi ceritanya

Widi Dwinanda menjelaskan bahwa hubungan Ustaz Adam dan Aini dibangun sangat kuat agar penonton memahami alasan tokoh utama begitu terpukul setelah kehilangan sang istri. Proses pendalaman karakter itu bahkan dilakukan sejak awal bersama Arya Saloka, sebelum pembacaan naskah dimulai.

Hubungan ibu dan anak antara Aini dan Amir juga disiapkan lebih dulu supaya dinamika keluarga terasa hidup di layar. Faqih Alaydrus memerankan Amir, anak yang sangat dekat dan penyayang kepada kedua orang tuanya.

Pemain Peran Catatan Karakter
Donny Damara Haji Mansur Tokoh yang dihormati warga sebagai sesepuh dan dermawan
Widi Dwinanda Aini Istri Ustaz Adam, sosok keibuan dan pendukung suaminya
Faqih Alaydrus Amir Anak Ustaz Adam dan Aini yang sangat penyayang

Donny Damara tampil sebagai Haji Mansur, tokoh yang dipandang warga desa sebagai orang baik dan dihormati. Karakter ini ikut menopang cerita di tengah rangkaian teror yang muncul dalam film.

Set syuting justru lebih menakutkan daripada hantu

Bagi Widi, pengalaman paling berat terjadi saat ia harus menjalani adegan menjadi pocong di pemakaman asli pada dini hari. Kondisinya makin sulit karena adegan itu dilakukan saat hujan dan bukan di set buatan.

Ia mengaku sempat khawatir tanah dan air masuk ke hidung saat adegan dibalik, sementara tubuhnya juga harus menahan dingin dan ketidaknyamanan. Widi juga menyebut ada adegan kecelakaan di hutan pada hujan hingga subuh yang membuat proses syuting terasa sangat berat.

Faqih Alaydrus menghadapi tantangan berbeda saat menjalani film horor pertamanya. Ia harus syuting malam di hutan, termasuk adegan kecelakaan pada jam setengah tiga pagi sambil tiduran di tanah dan berguling-guling dalam hujan.

Menariknya, Faqih mengaku bukan hantu yang paling ia takutkan saat syuting, melainkan ular yang mungkin lewat di lokasi. Pengalaman itu justru membuatnya merasa lebih berani setelah terlibat di film ini.

Donny Damara juga menghadapi adegan ekstrem ketika tubuh karakternya terbakar dalam pertarungan dengan Ustaz Adam. Ia menyebut tim stunt sudah menyiapkan prosedur keamanan dengan matang, termasuk gel dingin dan cairan yang mengalirkan api agar adegan tetap aman.

Ruqyah ditampilkan dekat dengan kenyataan

Donny menilai kekuatan Munafik: Melawan Iblis tidak hanya ada pada unsur horor, tetapi juga pada cara film ini menampilkan ruqyah. Ia menyebut praktik yang ditampilkan dibuat dekat dengan kenyataan, termasuk bacaan ayat suci dan tajwid yang benar.

Widi juga menekankan bahwa film ini tidak sekadar menakut-nakuti penonton. Menurutnya, ada perjalanan emosional tentang menerima duka, berdamai dengan kehilangan, lalu tetap melangkah meski takdir tidak sesuai harapan.

Karena itu, penonton diperkirakan tidak hanya mendapat teror, tetapi juga pengalaman yang mengharu biru. Donny berharap film ini memberi hiburan sekaligus pembelajaran, sementara Widi menilai pesan keikhlasan menjadi salah satu hal yang paling terasa.

Munafik: Melawan Iblis merupakan adaptasi dari film Malaysia berjudul sama karya Syamsul Yusof, lalu digarap versi Indonesia oleh sutradara Guntur Soeharjanto dan produser Oswin Bonifanz. Film ini dibintangi Arya Saloka, Donny Damara, Widi Dwinanda, Faqih Alaydrus, Acha Septriasa, Nova Eliza, Elvira Devinamira, Dimas Aditya, dan sejumlah pemain lain.

Film produksi Unlimited Production yang bekerja sama dengan Skop Official itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Dengan kombinasi horor supranatural dan drama keluarga, film ini ingin menghadirkan ketegangan yang tidak berhenti di layar, tetapi juga meninggalkan rasa sesak setelah penonton pulang.

Source: www.suara.com
Terbaru