Kementerian Sosial membawa layanan langsung ke Kabupaten Gowa lewat Bakti Sosial Terintegrasi, dengan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial senilai Rp 907 juta. Kehadiran program ini menjadi penanda bahwa layanan sosial tidak hanya disalurkan lewat mekanisme administratif, tetapi juga hadir langsung ke warga yang membutuhkan.
Di lokasi kegiatan, Kemensos membuka sedikitnya 14 jenis layanan sosial yang mencakup kebutuhan kesehatan, disabilitas, hingga dukungan dasar bagi masyarakat. Layanan itu meliputi operasi katarak, khitanan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan paket nutrisi, dan sejumlah bentuk bantuan lain yang dirancang agar lebih mudah dijangkau.
Layanan yang Menyentuh Kebutuhan Langsung
Bantuan yang disalurkan tidak berhenti pada aspek medis. Kemensos juga menyiapkan alat bantu disabilitas, bantuan kewirausahaan, penguatan bagi eks penderita kusta, perlengkapan kebersihan diri, perlengkapan sekolah, peningkatan aksesibilitas, pengadaan sarana kamar, dan layanan bebas pasung.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa program di Gowa disusun untuk menjawab kebutuhan yang sangat beragam dalam satu kegiatan. Nilai Rp 907 juta dipakai untuk menopang operasional layanan kesehatan dan kebutuhan dasar warga sekaligus memperkuat kapasitas penerima manfaat agar lebih mandiri secara ekonomi dan sosial.
Salah satu penerima bantuan adalah Rendi, warga Desa Lassa-Lassa, yang mendapat kaki palsu setelah lebih dari 10 tahun berjuang dengan keterbatasan fisik. Pria 53 tahun itu kehilangan salah satu kakinya akibat serangan buaya saat bekerja di Malaysia pada 2015.
Selama bertahun-tahun, kondisi itu menjadi hambatan besar bagi Rendi untuk beraktivitas dan mencari nafkah bagi keluarganya. Ia menyampaikan rasa syukur atas bantuan tersebut dan berharap bisa kembali berjalan ke kebun serta memberi masa depan yang lebih baik bagi anaknya.
Sinergi Pusat dan Daerah
Kepala Sentra Gau Mabaji Gowa, Hasatama Hikmah, menyebut kegiatan ini sebagai wujud nyata komitmen Kemensos untuk menghadirkan layanan yang lebih dekat, cepat, dan menyeluruh. Menurut dia, pendekatan seperti ini penting untuk mempercepat penanganan masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Gowa.
Pelaksanaan kegiatan juga didukung sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan elemen vertikal lainnya. Kolaborasi itu mendapat apresiasi dari Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dan Orang dengan HIV, Anna Puspitasari.
Anna menekankan bahwa seluruh penyaluran bantuan harus bertumpu pada akurasi data agar tepat sasaran. Ia juga menyebut bantuan alat bantu disabilitas, kebutuhan hidup layak, dan bantuan kewirausahaan diharapkan menjadi stimulus agar penerima manfaat bisa hidup mandiri menuju graduasi.
Bakti Sosial Terintegrasi di Gowa memperlihatkan bagaimana layanan sosial dapat dijalankan dalam satu rangkaian yang lebih menyentuh kebutuhan warga. Dari kesehatan, disabilitas, hingga penguatan ekonomi, program ini diarahkan untuk membuka akses bantuan tanpa membuat warga harus menunggu lama atau berpindah-pindah layanan.
