Kemenkeu Ungkap Tiga Jurus Fiskal, Ekonomi Tetap Tumbuh Saat Risiko Global Menguat

Ketahanan ekonomi Indonesia disebut masih terjaga di tengah risiko global yang terus berubah. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai, daya tahan itu lahir dari kombinasi bauran energi nasional dan kebijakan fiskal yang dijalankan secara pruden.

Salah satu penopang utama datang dari struktur energi domestik yang tidak bergantung pada satu sumber. Indonesia memproduksi minyak, gas, biodiesel, bioenergi, dan batu bara, sehingga lebih siap menghadapi gejolak harga minyak dunia.

Tiga jurus fiskal Kemenkeu

Juda menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan menjalankan tiga strategi utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat. Seluruh langkah itu tetap berada dalam koridor disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi.

Strategi pertama adalah pengendalian belanja negara. Pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi melalui kenaikan pengeluaran subsidi agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi bisa ditahan.

Di saat yang sama, pemerintah melakukan efisiensi pada Program Makan Bergizi Gratis dengan pengurangan di Hari Sabtu. Belanja negara kemudian diarahkan ke sektor produktif agar mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan membuka lapangan kerja baru.

Juda menyebut kebijakan itu sebagai refocusing belanja. Arah utamanya adalah mengalihkan pengeluaran ke sektor yang bisa mendorong permintaan, memperkuat suplai, dan menciptakan pekerjaan.

Dorong penerimaan dan pembiayaan lebih beragam

Strategi kedua ditempuh lewat optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memaksimalkan momentum kenaikan harga komoditas dan memperkuat penerimaan pajak melalui implementasi sistem Coretax.

Langkah ini menjadi penting karena ruang fiskal perlu dijaga saat tekanan eksternal masih tinggi. Dengan penerimaan yang lebih kuat, pemerintah memiliki bantalan yang lebih baik untuk menopang kebijakan ekonomi.

Strategi ketiga berfokus pada sisi pembiayaan. Pemerintah mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan menerbitkan surat utang dalam mata uang non-USD dan bunga yang kompetitif.

Instrumen yang dipakai antara lain Samurai bonds dalam yen Jepang, Dim Sum bonds dalam renminbi, dan Kangaroo bonds dalam dolar Australia. Pola pembiayaan yang lebih beragam ini dipilih untuk menekan risiko valas dan menjaga struktur pembiayaan tetap sehat.

Dampaknya mulai terlihat di indikator utama

Menurut Juda, hasil dari tiga strategi fiskal itu sudah tercermin pada kinerja ekonomi kuartal pertama. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61%, sementara inflasi berada di level 2,42%.

Ia juga menyebut defisit fiskal terkendali di level 0,64% pada April 2026. Selain itu, yield SBN dan spread masih berada dalam kondisi yang terjaga, sehingga pasar dinilai masih membaca fundamental fiskal Indonesia sebagai kuat.

Juda menegaskan empat indikator itu menunjukkan fiskal Indonesia masih solid. Ia menyebut strategi yang ditempuh pemerintah berjalan dengan baik untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button