Kemenkeu Pasang Target 5,5 Persen di Kuartal I 2026, Pajak dan Belanja Negara Jadi Penentu

Kementerian Keuangan menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada kuartal I 2026. Target itu ditopang oleh dua mesin utama, yaitu perbaikan realisasi belanja negara dan penguatan penerimaan pajak pada awal periode fiskal.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan proyeksi tersebut dalam acara peluncuran PINISI di Gedung BI, Jakarta. Menurut dia, pola belanja pemerintah yang lebih merata akan membantu menjaga laju pertumbuhan agar tidak menumpuk di akhir tahun.

Belanja negara didorong lebih cepat dan merata

Pemerintah kini mengubah pola penyaluran anggaran agar tidak terlalu terkonsentrasi di penghujung tahun. Skema ini membagi realisasi belanja secara lebih proporsional dari awal hingga akhir periode fiskal.

Juda menilai langkah itu penting agar pertumbuhan ekonomi bisa terjadi lebih cepat dalam tahun yang sama. Percepatan belanja juga diharapkan ikut mengangkat konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Dalam penjelasannya, target realisasi belanja negara untuk kuartal II, III, dan IV tahun ini masing-masing ditetapkan sebesar 26 persen dari total pagu APBN 2026. Pemerintah menilai pembagian yang lebih seimbang dapat memberi efek berantai ke aktivitas ekonomi di berbagai sektor.

Penerimaan pajak menunjukkan penguatan

Dari sisi penerimaan, Kementerian Keuangan mencatat kinerja pajak yang lebih baik pada awal tahun. Hingga akhir kuartal I 2026, realisasinya mencapai Rp 394,8 triliun, tumbuh 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebagai pembanding, pada kuartal I 2025 penerimaan pajak sempat terkontraksi 18,8 persen dengan capaian Rp 327 triliun. Perbaikan ini memberi sinyal bahwa aktivitas ekonomi dan transaksi usaha bergerak lebih kuat pada awal tahun.

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah menjadi penyumbang utama dengan nilai Rp 155,6 triliun. Capaian itu naik 57,7 persen secara tahunan dan menunjukkan menguatnya konsumsi serta aktivitas perdagangan.

Optimisme fiskal bertumpu pada konsumsi

Kementerian Keuangan melihat konsumsi pemerintah masih memiliki peran besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada tahun lalu, kontribusinya disebut mencapai sekitar 7,53 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan perbaikan penerimaan pajak dan percepatan belanja negara, pemerintah menilai ruang pertumbuhan pada kuartal I 2026 semakin terbuka. Juda menyebut kuatnya PPN dan PPnBM menjadi salah satu dasar optimisme terhadap target 5,5 persen tersebut.

Sinyal positif dari sisi fiskal ini juga dinilai dapat memperkuat ekspektasi konsumen. Jika belanja negara tetap berjalan lebih cepat dan penerimaan pajak terus menguat, dorongan terhadap ekonomi pada awal tahun akan terasa lebih jelas.

Terkait