Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut, Pertumbuhan Ekonomi Tak Lagi Merata

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terlihat kuat di level makro, tetapi tekanan di lapangan membuat kelas menengah terus menyusut. Di saat angka ekonomi bergerak positif, lebih banyak rumah tangga justru bergeser ke kelompok yang lebih rentan.

Gambaran itu terlihat dari pemetaan Badan Pusat Statistik yang membagi masyarakat ke lima lapisan berdasarkan pengeluaran bulanan per kapita dibanding Garis Kemiskinan nasional. Peta tersebut menunjukkan bahwa laju ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kekuatan daya beli warga.

Kelas menengah menyusut, kelompok rentan membesar

Data Mandiri Institute menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun 1,2 juta dibanding tahun sebelumnya. Dalam rentang 2019-2025, kelompok middle class menyusut lebih dari 11 juta orang, sementara Upper Aspiring Middle Class cenderung stagnan di bawah ambang batas kelas menengah.

Di saat yang sama, kelompok aspiring middle class justru membesar. Jumlahnya naik dari 137,5 juta menjadi 142 juta orang pada 2025, menandakan makin banyak warga berada di batas tipis antara aman dan rentan.

Mayoritas warga belum menjadi penggerak utama ekonomi

Komposisi penduduk juga memperlihatkan tekanan yang masih besar di lapisan bawah. Kelompok rentan miskin naik dari 67,7 juta pada 2024 menjadi 67,9 juta orang pada 2025, sementara kelompok miskin turun dari 25,2 juta menjadi 23,9 juta.

Kelas atas hanya 0,4 persen dari total populasi atau sekitar 1,2 juta orang. Artinya, kelompok aspiring middle class dan vulnerable masih jauh lebih besar dibanding kelas menengah dan atas, sehingga mayoritas penduduk berada di kelompok non-penggerak ekonomi.

Risiko turun kelas masih terbuka lebar

Ombudsman menyoroti bahwa masyarakat di kelompok aspiring middle class berada dalam posisi yang rentan jatuh ke kategori poor. Risiko itu datang dari PHK, terbatasnya perlindungan hak-hak dasar pekerja, dan sempitnya peluang kerja di tengah pesatnya AI.

Tekanan lain datang dari akses pinjaman online yang makin mudah. Bagi masyarakat dengan literasi finansial rendah, kemudahan berutang bisa mendorong rumah tangga masuk ke siklus utang yang sulit diputus.

Angka ekonomi tetap tumbuh, tetapi tidak dirasakan merata

Di sisi lain, pemerintah tetap menekankan penguatan fondasi domestik sebagai penopang ekonomi. Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyebut laporan sejumlah kepala daerah menunjukkan kemiskinan dan pengangguran terbuka mulai menurun.

BPS mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga juga menguat menjadi 5,52 persen year on year, naik dari 4,98 persen sepanjang 2025.

Daya beli bergeser ke kebutuhan yang tak bisa ditunda

Meski konsumsi per kapita naik 4,3 persen, pola belanja masyarakat menunjukkan tekanan yang nyata. Uang rumah tangga kini lebih banyak terserap untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.

Itulah sebabnya pertumbuhan ekonomi dan penyusutan kelas menengah perlu dibaca bersamaan. Angka makro masih menunjukkan ketahanan ekonomi secara umum, tetapi distribusi pendapatan dan pengeluaran memperlihatkan banyak warga masih berjuang mempertahankan posisinya agar tidak turun satu lapis lagi.

Source: www.idntimes.com

Terkait