Kecoak Cyborg Ini Bisa Bertahan 3 Jam Di Bawah Air, Siap Masuk Area Bencana

Kecoak mungkin bukan hewan yang biasanya dikaitkan dengan misi penyelamatan. Namun, para ilmuwan baru saja menunjukkan bahwa serangga ini bisa diubah menjadi platform bergerak yang mampu bertahan di bawah air selama berjam-jam.

Dalam riset yang terbit di Nature Communications, tim peneliti memakai kecoak hissing Madagascar dan memasangkannya dengan perangkat kecil seperti tabung oksigen serta cangkang pelindung. Hasilnya adalah kecoak “cyborg” yang bisa menyelam dan tetap beroperasi di lingkungan miskin oksigen.

Kecoak Yang Bisa Bernapas Di Bawah Air

Tabung oksigen pada perangkat itu bekerja seperti regulator alat selam dan ditempelkan ke spirakel toraks, yaitu lubang pernapasan pada tubuh kecoak. Dengan bantuan itu, serangga tersebut dapat bertahan hingga tiga jam di bawah air.

Pendekatan ini membuat kecoak darat berubah menjadi robot cyborg amfibi yang dapat bergerak di dua lingkungan sekaligus, di darat dan di air. Bagi tim peneliti, kemampuan seperti ini penting karena banyak lokasi darurat terlalu berbahaya atau terlalu sempit untuk dijangkau langsung manusia.

Targetnya Area Banjir, Pipa, Dan Ruang Sempit

Ukuran tubuh yang kecil dan kebutuhan energi yang rendah membuat serangga ini dianggap cocok untuk pencarian di ruang terbatas. Tim peneliti menyoroti potensi penggunaannya di lokasi banjir, pipa, saluran sempit, dan area terdampak bencana lain.

Kecoak hissing Madagascar juga dipilih karena ketangguhannya. Spesies ini dapat tumbuh hingga sekitar 7,5 sentimeter, kira-kira sepanjang jari orang dewasa, dan bisa hidup hingga lima tahun.

Potensi Untuk Misi Penyelamatan

Hirotaka Sato, penulis senior studi sekaligus profesor di School of Mechanical and Aerospace Engineering, Nanyang Technological University, Singapura, mengatakan area bencana sering kali sulit dan berbahaya bagi manusia. Kondisi itu menjadi semakin rumit saat jalan dan akses lain tertutup air serta puing-puing.

Sato menambahkan bahwa memperluas kemampuan operasi serangga cyborg agar bisa bergerak di bawah air dapat membantu misi pencarian dan penyelamatan. Dalam pandangan tim, platform ini memberi cara baru untuk menjangkau ruang yang tidak aman bagi manusia.

Teknologi Yang Bisa Diterapkan Ke Serangga Lain

Meski fokus awalnya pada kecoak, para peneliti melihat teknologi serupa berpeluang diterapkan pada serangga lain. Locust dan kumbang disebut sebagai kandidat untuk pengembangan berikutnya.

Eksperimen ini menempatkan kecoak bukan sekadar sebagai hewan uji, melainkan sebagai platform bergerak berbiaya energi rendah yang tetap bisa menjalankan fungsi dasar di air. Dengan cangkang pelindung dan suplai oksigen, serangga itu tetap mampu berpindah tanpa kehilangan kemampuan operasionalnya.

Di bidang robotika biologis, pendekatan ini menunjukkan bagaimana organisme hidup bisa dipadukan dengan perangkat sederhana untuk melampaui batas lingkungan alaminya. Fokusnya bukan membuat mesin besar, melainkan memanfaatkan ketahanan serangga untuk membantu pencarian di tempat yang sempit, tergenang, atau penuh hambatan.

SpesiesUkuranKetahanan HidupPotensi Penggunaan
Kecoak hissing MadagascarHingga sekitar 7,5 sentimeterHingga lima tahunPencarian di lokasi banjir, pipa, dan ruang sempit

Kombinasi ukuran kecil, daya tahan tinggi, dan perangkat pernapasan sederhana membuat kecoak cyborg ini menjadi salah satu pendekatan paling unik dalam robotika biologis. Bagi misi penyelamatan, kemampuan menjangkau area yang terlalu sempit atau terlalu berbahaya bisa menjadi nilai utama dari teknologi seperti ini.

Terkait