Ginjal bekerja tanpa banyak disadari, tetapi organ ini memegang peran besar dalam menyaring darah, membuang zat sisa, menjaga keseimbangan cairan dan mineral, serta memproduksi hormon penting. Karena itu, sejumlah kebiasaan yang terlihat sepele justru bisa memberi beban tambahan pada ginjal jika dilakukan terus-menerus.
Masalahnya, tidak semua kebiasaan yang dianggap sehat benar-benar aman untuk organ ini. Minum air terlalu banyak dalam waktu singkat, mengonsumsi suplemen tanpa pengawasan, hingga terlalu mengandalkan produk detoks bisa membuat ginjal bekerja lebih keras dari yang seharusnya.
Terlalu banyak minum air
Minum air tetap penting, tetapi jumlah yang berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu kelebihan hidrasi. Ginjal hanya mampu memproses sekitar 0,8–1 liter air per jam, sehingga asupan yang melampaui batas itu dapat mengencerkan elektrolit dalam darah.
Kondisi ini dapat menurunkan kadar natrium tubuh. Saat natrium terlalu rendah, sel-sel tubuh bisa membengkak, termasuk sel otak, dan memicu gejala yang serius.
Dokter spesialis urologi David Shusterman, MD, menyarankan minum saat merasa haus. Ia juga menyebut urine berwarna kuning pucat umumnya menjadi tanda tubuh terhidrasi dengan baik.
Suplemen yang dikonsumsi berlebihan
Tidak semua suplemen berbahaya, tetapi dosis tinggi dapat menimbulkan masalah bagi ginjal. Kunyit, vitamin C dosis tinggi, dan kalsium dosis tinggi disebut dapat meningkatkan risiko batu ginjal.
Vitamin D juga dapat memunculkan masalah pada penderita penyakit ginjal kronis. Karena itu, suplemen sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan, terutama bila sedang memakai obat lain.
Konsultasi dengan dokter penting untuk mengetahui manfaat, efek samping, dan kemungkinan interaksi obat. Langkah ini membantu mencegah beban tambahan pada ginjal dari produk yang sering dianggap aman.
Protein berlebihan
Asupan protein tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang terlalu tinggi dapat membuat ginjal bekerja lebih keras. Hal ini sering terjadi pada orang yang mengandalkan minuman atau suplemen protein dalam jumlah besar untuk program kebugaran.
Shusterman menjelaskan bahwa protein hingga dua atau tiga kali kebutuhan harian tidak membuat otot bertambah lebih cepat. Sebaliknya, beban kerja ginjal justru meningkat.
Tim Pflederer, MD, Chief Medical Officer di Evergreen Nephrology, menambahkan bahwa protein dari daging hewan dapat memberi beban lebih besar pada ginjal, terutama pada penderita penyakit ginjal kronis. Ia menyarankan lebih banyak memilih sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, kedelai, biji-bijian, quinoa, dan lentil.
Shusterman juga menyarankan asupan protein tetap berada di kisaran 0,8–1 gram per kilogram berat badan per hari, kecuali ada rekomendasi berbeda dari dokter.
Teh detoks dan NSAID
Teh detoks kerap dipromosikan untuk membersihkan racun dan membantu menurunkan berat badan, tetapi bukti ilmiah yang mendukung klaim itu sangat terbatas. Banyak produk ini mengandung diuretik yang meningkatkan produksi urine, sehingga penurunan berat badan yang terjadi sering hanya berasal dari berkurangnya cairan tubuh.
Jika dikonsumsi berlebihan, teh detoks dapat memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Beberapa bahan herbal di dalamnya, seperti akar licorice, St. John’s wort, dan daun senna, juga diketahui dapat memberi efek merugikan bagi ginjal.
Obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen juga perlu digunakan hati-hati. Obat ini umum dipakai untuk meredakan nyeri, peradangan, dan demam, tetapi penggunaan berlebihan dapat memberi tekanan besar pada ginjal.
Untuk nyeri otot ringan sehari-hari, Shusterman menyarankan pendekatan yang lebih aman seperti peregangan, istirahat cukup, dan menjaga tubuh tetap terhidrasi. Ia juga mengingatkan agar obat pereda nyeri dipakai hanya saat benar-benar dibutuhkan.
Dengan pilihan kebiasaan yang lebih hati-hati, beban pada ginjal bisa ditekan tanpa harus mengubah rutinitas secara ekstrem. Langkah kecil seperti memperhatikan asupan air, suplemen, protein, dan obat yang dikonsumsi dapat membantu menjaga fungsi organ ini tetap bekerja optimal.
