Maroko Datang Lebih Teruji, Kanada Harus Hadapi Singa Atlas yang Makin Solid

Kanada dan Maroko sama-sama melaju ke fase 16 besar, tetapi beban ujian yang mereka bawa sangat berbeda. Singa Atlas tiba dengan modal menghadapi lawan kelas berat, sementara Kanada datang sebagai kejutan yang masih mencari pembuktian di level tertinggi.

Maroko sudah lebih dulu ditempa Brasil dan Belanda di turnamen ini. Hasil itu membuat mereka terlihat lebih matang, lebih keras, dan lebih siap untuk laga-laga besar ketimbang Kanada yang baru menorehkan sejarah dengan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Maroko lebih dulu merasakan tekanan lawan elite

Perjalanan Maroko menuju babak 16 besar berlangsung tanpa kekalahan. Mereka menahan Brasil dan kemudian menyingkirkan Belanda lewat adu penalti di babak 32 besar.

Kanada menempuh jalan yang lebih ringan. Tim asuhan Jesse Marsch sempat kalah dari Swiss di fase grup dan hanya ditahan Bosnia Herzegovina, tim yang berperingkat di bawah mereka.

TimGolxGPenguasaan bola
Kanada98,3349%
Maroko75,5555%

Statistik Kanada tajam, tetapi konteks Maroko lebih berat

Kanada memang lebih produktif secara angka. Mereka mencetak 9 gol, melepaskan 71 peluang, 29 tembakan tepat sasaran, dan membukukan xG 8,33 yang menjadi kelima terbaik di antara 48 tim.

Maroko mencatat 7 gol, 50 peluang, 21 tembakan tepat sasaran, dan xG 5,55. Namun, angka itu lahir saat mereka melawan tim yang jauh lebih berat, termasuk Brasil yang berperingkat 5 dan Belanda yang berperingkat 8.

Dominasi kolektif yang membuat lawan sulit berkembang

Maroko tidak hanya menang lewat hasil akhir. Mereka mendikte tiga dari empat pertandingan pertama dan membuat lawan kesulitan membangun permainan di hampir semua lini.

Belanda bahkan hanya mendapat 30 persen distribusi bola saat menghadapi Maroko. Tekanan Singa Atlas terasa saat menyerang dan juga saat bertahan.

AspekKanadaMaroko
Sentuhan pressing171218
Peringkat pressing132

Di fase defensif, Maroko menjadi tim terkuat kedua setelah Paraguay dalam pressing. Mereka mencatat 218 sentuhan pressing, jauh di atas Kanada yang membukukan 171 dan berada di peringkat ke-13.

Tekanan itu terbukti efektif karena lawan kesulitan menciptakan peluang bersih. Belanda hanya menghasilkan 7 peluang dan 3 tembakan tepat sasaran, sementara Maroko sendiri mencatat 6 peluang on target.

Kanada aktif di sayap, tetapi diuji pada level berbeda

Kanada agresif ketika masuk ke sepertiga akhir lapangan. Sekitar 62 persen dari total sentuhan mereka memanfaatkan lebar lapangan, dan kedua sisi serangan mereka terlihat sama aktif.

Alistair Johnston dan Tajon Buchanan memberi ancaman dari kanan, sedangkan Richie Laryea dan Liam Millar bergerak tajam di kiri. Jika Alphonso Davies bermain penuh, sisi kiri Kanada bisa menjadi lebih berbahaya.

Masalahnya, Davies belum tampil sebagai starter karena terus dibayangi cedera. Ia hanya turun sebagai pemain pengganti saat Kanada menaklukkan Afrika Selatan pada babak 32 besar.

Duel sayap dan poros tengah bisa jadi penentu

Laga ini juga mempertemukan dua sisi permainan yang menarik, terutama potensi duel Alphonso Davies dan Achraf Hakimi. Hakimi berperan besar sebagai arsitek serangan Maroko dengan 13 peluang hingga babak 32 besar.

Bek kanan itu mengambil 62 persen dari total percobaan gol Maroko dalam empat laga. Hakimi juga menjadi pemain Maroko paling efektif dalam manuver lini ke lini, meski frekuensinya masih di bawah Alistair Johnston, 56 kali berbanding 70 kali.

Namun, kekuatan Maroko tidak bergantung pada satu nama. Ismael Saibari sudah mencetak 3 gol dan menjadi pemain Maroko dengan pressing terbanyak, 171, sedikit di atas Jonathan David yang juga mengoleksi 3 gol dengan 169 pressing.

Di lini tengah, Kanada harus menghadapi poros ganda Neil El Ayanoui dan Ayyoub Boudaddi. Stephen Eustaquio memimpin sektor tengah Kanada, tetapi gelandang Maroko dinilai lebih teruji karena sudah menghadapi nama-nama elite seperti Casemiro dan Frenkie de Jong.

Pengalaman besar masih jadi pembeda utama

Maroko datang sebagai tim berperingkat 6 dunia dan baru enam bulan lalu menjuarai Piala Afrika. Mereka juga pernah finis peringkat keempat dunia di Qatar empat tahun silam, sehingga pengalaman di panggung besar terasa lebih kuat.

Kanada berada di peringkat 30 dan belum pernah melalui ujian seberat yang sudah dijalani Maroko. Dengan modal itu, Singa Atlas lebih diunggulkan untuk memenangi laga di Houston Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu (5/7) pukul 00.00 WIB.

Kanada memang punya produktivitas yang menarik dan serangan sayap yang aktif, tetapi Maroko hadir dengan struktur permainan yang lebih solid, pressing yang lebih rapat, serta lawan yang jauh lebih berat sepanjang turnamen. Itulah yang membuat mereka terlihat lebih siap melangkah lebih jauh.

Source: ambon.antaranews.com

Terkait