Keputusan warga Indonesia untuk berobat ke luar negeri ternyata tidak semata-mata dipicu oleh alat medis canggih atau nama besar rumah sakit. Pasien juga menimbang kenyamanan, ketepatan pelayanan, kejelasan informasi, hingga rasa percaya kepada dokter yang menangani mereka.
Kementerian Kesehatan menerima laporan bahwa sekitar 1 juta hingga 2 juta warga Indonesia memilih menjalani perawatan di negara lain setiap tahun. Angka ini menjadi bahan evaluasi bagi fasilitas kesehatan di dalam negeri untuk memperbaiki pengalaman pasien secara menyeluruh.
Pasien Menilai Seluruh Perjalanan Perawatan
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Sunarto, M.Kes, menilai pengalaman pasien menjadi salah satu penentu penting dalam memilih tempat berobat. Penilaian itu dimulai sejak pasien datang, mencari informasi, menjalani pemeriksaan, hingga menerima hasil diskusi mengenai diagnosis.
Menurut Sunarto, kualitas dokter dan kelengkapan fasilitas tetap merupakan fondasi utama layanan medis. Namun, keduanya kini tidak dapat dipisahkan dari pengalaman yang dirasakan pasien selama berada di rumah sakit.
Pasien tidak hanya melihat hasil pemeriksaan atau terapi yang diberikan. Mereka juga memperhatikan cara staf berinteraksi, kenyamanan bangunan, kelancaran administrasi, serta kejelasan komunikasi di setiap tahap layanan.
| Aspek yang Dinilai | Hal yang Dirasakan Pasien |
|---|---|
| Hospitalitas | Cara tenaga dan staf layanan berinteraksi dengan pasien |
| Kenyamanan | Kondisi bangunan fisik dan suasana selama perawatan |
| Ketepatan layanan | Waktu pelayanan dan penyampaian hasil diskusi diagnosis |
| Teknologi | Pemanfaatan teknologi untuk menunjang pelayanan |
Dalam konferensi pers ASMIHA ke-35 di Jakarta Selatan, Sunarto menjelaskan bahwa hospitalitas dan ketepatan waktu ikut membentuk persepsi pasien. Hal tersebut menunjukkan bahwa mutu layanan tidak lagi hanya diukur melalui kemampuan klinis dokter.
Mutu Layanan Tidak Berhenti pada Kompetensi Dokter
Fasilitas kesehatan perlu memastikan pelayanan berjalan baik pada setiap titik perjalanan pasien. Mulai dari komunikasi awal hingga tindak lanjut perawatan, pasien membutuhkan proses yang terasa jelas, teratur, dan menghargai kebutuhan mereka.
Sunarto menekankan bahwa fungsi layanan harus berjalan sesuai harapan pasien, bukan sekadar tersedia di atas kertas. Kondisi fisik rumah sakit dan penggunaan teknologi juga menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk penilaian masyarakat.
Sudut pandang ini menempatkan pasien sebagai pihak yang mengalami langsung seluruh proses layanan kesehatan. Mereka datang bukan hanya untuk memperoleh diagnosis atau pengobatan, tetapi juga untuk menjalani rangkaian komunikasi dengan dokter dan staf rumah sakit.
Tingginya jumlah masyarakat yang mencari perawatan di luar Indonesia dinilai perlu dibaca sebagai dorongan untuk berbenah. Perbaikan yang dibutuhkan tidak hanya terkait kecanggihan alat atau kapasitas medis, melainkan juga cara pelayanan diberikan kepada pasien.
Kepercayaan Menjadi Penentu yang Tak Tergantikan
Kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik PERKI, Muhammad Munawar, MD, FIHA, menyoroti pentingnya kepercayaan dalam hubungan antara dokter dan pasien. Menurutnya, teknologi modern serta pendidikan dokter yang baik belum cukup jika pasien belum yakin kepada tenaga medis yang merawatnya.
“Hal yang tidak kalah penting yaitu membangun kepercayaan pasien. Sebab, teknologi yang canggih, pendidikan dokternya bagus, tapi pasiennya tidak percaya juga tidak bisa,” tutur Munawar.
Ia menilai kepercayaan harus dibangun melalui kejujuran, keterbukaan, dan integritas tenaga medis. Pasien perlu merasa yakin bukan hanya terhadap fasilitas yang tersedia, tetapi juga terhadap dokter yang mengambil keputusan dalam perawatannya.
Hubungan dokter-pasien yang kuat dapat memberi nilai tambahan bagi layanan kesehatan Indonesia. Saat kemampuan medis, kenyamanan layanan, dan kepercayaan berjalan bersama, masyarakat memiliki alasan lebih besar untuk mempertimbangkan perawatan di dalam negeri.
