Jonatan Christie kembali menunda mimpi besar yang sudah lama ia kejar di Indonesia Open. Di final Polytron Indonesia Open 2026, tunggal putra Indonesia itu harus mengakui keunggulan Victor Lai setelah kalah dua gim langsung, 19-21 dan 8-21, di Istora.
Kekalahan itu terasa pahit karena Jonatan sebenarnya menorehkan pencapaian penting. Untuk pertama kalinya, ia berhasil menembus final Indonesia Open, setelah sebelumnya paling jauh hanya mencapai semifinal pada 2021.
Tekanan besar sejak awal
Jonatan mengaku laga final berjalan dengan tekanan tinggi sejak awal permainan. Ia menilai ketegangan sudah terasa sebelum reli-reli panjang berkembang, dan situasi itu membuatnya sulit tampil lepas.
“Memang saya merasa ada tekanan sejak awal bermain, ketegangannya juga cukup besar. Saya rasa saya tidak bisa mengatasi hal tersebut di dalam lapangan tadi, itu saja,” ujar Jonatan. Ia menegaskan insiden kartu kuning tidak banyak memengaruhi performanya.
Di gim pertama, Jonatan masih bisa memberi perlawanan ketat. Namun, ia kehilangan kendali permainan pada gim kedua saat Lai tampil lebih cepat dan konsisten menekan.
Lai tak gentar dengan atmosfer Istora
Victor Lai juga tidak menampik bahwa kemenangan atas Jonatan lahir dari pertandingan yang sangat berat. Menurut dia, tantangan terbesar justru datang dari atmosfer Istora yang bising dan dipenuhi dukungan untuk wakil Indonesia.
“Saya rasa hal tersulit hari ini adalah mengatasi tekanan dari penonton. Sangat bising dan setiap kali Jonatan memenangkan poin, rasanya saya bahkan tidak bisa mendengar suara saya sendiri karena sangat, sangat bising,” kata Lai.
Lai menyebut kunci kemenangannya ada pada kemampuan menjaga fokus. Ia juga menilai Jonatan tetap membawa tekanan besar karena berstatus favorit tuan rumah, sehingga final menuntut ketenangan penuh dari kedua pemain.
Mimpi emas belum terwujud
Usai pertandingan, Jonatan menyampaikan terima kasih kepada para pendukung yang terus memberi semangat. Ia juga meminta maaf karena belum bisa mempersembahkan hasil terbaik berupa medali emas.
“Terima kasih untuk yang sudah mendukung saya. Maaf saya belum bisa memberikan hasil yang paling maksimal, yaitu medali emas. Tetapi, ini yang bisa saya lakukan, ini yang bisa saya buat,” ucap Jonatan.
Bagi Jonatan, hasil ini memang belum mengakhiri penantian panjang di Indonesia Open. Namun, status finalis untuk pertama kalinya tetap menjadi langkah baru dalam perjalanan kariernya di turnamen itu.
Fokus bergeser ke pemulihan
Saat ditanya soal target berikutnya, Jonatan memilih menenangkan diri terlebih dahulu. Ia mengatakan ingin menjauh sejenak dari bulu tangkis agar pikirannya kembali segar setelah menjalani rangkaian pertandingan yang cukup panjang.
“Memang masih ada Kejuaraan Dunia dan Asian Games, tetapi mungkin fokus saya saat ini adalah menenangkan pikiran terlebih dahulu, menjauh sejenak dari bulu tangkis supaya lebih tenang,” kata Jonatan.
Di sisi lain, kemenangan ini juga menciptakan sejarah baru bagi Victor Lai. Ia menjadi tunggal putra Kanada pertama yang menembus final dan meraih gelar juara di Indonesia Open.
Lai mengaku punya kedekatan khusus dengan Indonesia karena banyak pelatih di klubnya berasal dari Tanah Air. Pengalaman itu, menurut dia, ikut membantunya memahami karakter permainan yang dihadapi di Istora.
Source: www.beritasatu.com