Jetour T1 Gasoline Vs i-DM, Selisih Rp150 Juta yang Dibayar dengan Fitur dan Tenaga

Jetour T1 datang dengan strategi yang tidak biasa di kelas SUV Indonesia. Satu nama ini ditawarkan dalam dua karakter besar: versi bensin konvensional dan versi Plug-in Hybrid berlabel i-DM, dengan selisih harga yang langsung mencolok di angka Rp150 juta.

Perbedaan itu bukan sekadar soal teknologi penggerak, tetapi juga soal fitur, kenyamanan, dan kesiapan untuk perjalanan jauh. Jetour T1 i-DM dipasarkan Rp558 juta, sedangkan T1 Gasoline dijual Rp408 juta, lalu keduanya mendapat potongan Rp20 juta untuk 1.000 pemesan pertama sehingga menjadi Rp538 juta dan Rp388 juta.

Basis sama, rasa pakai berbeda

Di atas kertas, dua varian ini lahir dari paket dasar yang hampir identik. Keduanya memakai sasis monokok dengan 80% baja berkekuatan tinggi, panjang 4.705 mm, lebar 1.967 mm, tinggi 1.843 mm, wheelbase 2.800 mm, dan approach angle 28 derajat.

Kesamaan itu juga terlihat dari tampilan luar. Jetour membekali keduanya dengan Horizon Light Bar Grille, foglight dengan fungsi cornering light, kaca ganda Double-Layer Acoustic Glass di baris pertama dan kedua, serta perlindungan sinar UV hingga 99%.

Tetap ada detail yang membedakan keduanya di bagian bawah bodi. T1 Gasoline punya ground clearance 200 mm dengan departure angle 29 derajat, sedangkan i-DM turun menjadi 190 mm karena ruang baterai, namun sudut pergi justru lebih leluasa di 33 derajat.

Varian bensin menggunakan velg 18 inci dengan ban 235/65 R18. Varian i-DM naik ke velg 19 inci dengan ban 235/60 R19 yang sudah memakai teknologi Run Flat Tire.

Kabin sama-sama lengkap, i-DM lebih mewah

Masuk ke kabin, keduanya sudah terasa premium untuk kelasnya. Fitur standar yang sama mencakup jok kulit sintetis premium, AC dengan filter PM2.5, wireless charging 50 Watt, serta port USB dan Type-C di dasbor.

Namun, i-DM membawa paket yang jauh lebih kaya. Varian ini memakai head unit 15,6 inci dengan prosesor Snapdragon 8155, audio 9 speaker premium Sony, ambient light dengan 64 pilihan warna, panoramic skyroof 64 inci, crystal gear knob, 24 Hour Parking AC Mode, serta jok depan ventilated, memory, dan passenger leg rest.

T1 Gasoline tetap membawa perlengkapan yang relevan, tetapi lebih sederhana. Head unit-nya berukuran 12,8 inci, audio memakai 8 speaker standar, ambient light hanya satu warna Ice Blue, skyroof tidak tersedia, dan pengaturan kursi depan hanya elektrik di sisi pengemudi.

Mesin sama-sama 1.500 cc turbo, tetapi karakter berbeda

Kedua varian sama-sama memakai mesin bensin 1.500 cc turbo TGDI dan sama-sama aman menggunakan bensin minimal RON 92. Meski demikian, karakter tenaganya dibuat sangat berbeda antara versi ICE dan PHEV.

Jetour T1 Gasoline mengandalkan mesin konvensional dengan rasio kompresi 11,6:1. Tenaganya mencapai 170 PS dan torsi 270 Nm, lalu disalurkan ke roda depan melalui transmisi 7-speed wet dual-clutch transmission.

Jetour T1 i-DM memakai Dedicated Hybrid Engine dengan rasio kompresi 12:1. Mesin bensinnya menghasilkan 136 PS dan torsi 220 Nm, tetapi motor listriknya menyumbang 204 PS dan 310 Nm sehingga respons akselerasinya lebih kuat di berbagai rentang kecepatan.

Sistem hybrid itu juga didukung Dedicated Hybrid Transmission atau 1DHT. Energi listriknya berasal dari baterai LFP 18,4 kWh yang mengantongi sertifikasi IP68 dan diklaim aman dari air maupun debu.

Pengisian daya dan jarak tempuh jadi pembeda penting

Jetour menyiapkan pengisian daya yang praktis untuk varian i-DM. Pengisian DC fast charging dari 30% ke 80% selesai dalam 27 menit, sedangkan AC slow charging dari 30% ke 100% memerlukan sekitar 180 menit.

Modal ini membuat i-DM lebih kuat untuk kebutuhan road trip dan penggunaan harian yang ingin mengandalkan tenaga listrik lebih sering. Sebaliknya, T1 Gasoline tetap menarik bagi pembeli yang ingin harga lebih rendah dan tidak membutuhkan sistem elektrifikasi.

Fitur keselamatan nyaris setara

Untuk suspensi dan pengereman, keduanya dibekali formula yang sama. Jetour memakai MacPherson di depan, Multi-Link Independent di belakang, serta ventilated disc brake di keempat roda.

Fitur keselamatan dasarnya juga serupa, mulai dari 6 airbags, TPMS, ISOFIX, ABS, EBD, BAS, TCS, ESC, hingga EPB. Keduanya juga mendapat paket ADAS Level 2 dengan ACC, LKA, BSD, FCW/RCW, serta 540° JETOUR Surround Vision.

Perbedaannya ada pada sensor parkir. Varian bensin hanya mendapat sensor belakang, sedangkan i-DM sudah menggunakan sensor depan dan belakang.

Dari sisi purnajual, keduanya mendapat garansi kendaraan dan mesin 6 tahun unlimited kilometers. Baterai i-DM sendiri dijamin 8 tahun atau 160.000 km, sementara pilihan warna standar untuk kedua varian mencakup Sand Gold, Aviation Silver, Carbon Crystal Black, dan White, dengan Tech Green tersedia dengan biaya tambahan Rp10 juta.

Source: www.zigwheels.co.id

Terkait