Jepang Langsung Hadapi Brasil, Peluang Asia di Fase Gugur Mulai Diuji

Peluang tim Asia di fase gugur Piala Dunia mulai masuk ujian paling berat. Dari sembilan wakil AFC, Jepang dan Australia sudah memastikan tiket ke babak 32 besar, tetapi jalan keduanya sangat berbeda.

Jepang langsung berhadapan dengan Brasil, sementara Australia mendapat lawan yang dinilai lebih seimbang, Mesir. Kontras itulah yang membuat nasib wakil Asia di turnamen ini terasa rapuh sekaligus menarik untuk diikuti.

Jepang mendapat tantangan paling keras

Di antara tim Asia yang lolos, Jepang menghadapi undian terberat. Samurai Biru akan menantang Brasil, juara Grup C, pada Senin (29/6/2026) di Houston, Texas.

Jepang datang dengan modal yang cukup kuat setelah menahan Belanda 2-2 pada laga pembuka. Mereka juga punya memori bagus karena sempat menang 3-2 atas Brasil dalam laga persahabatan internasional pada 14 Oktober 2025.

Namun, konteks laga kali ini berbeda. Brasil tetap datang sebagai favorit juara dengan kualitas individu yang menonjol, terutama lewat Vinicius Junior yang sudah mencetak empat gol dan satu asis.

Angka-angka yang membuat Brasil tetap unggul

Secara statistik, kedua tim sama-sama mencetak tujuh gol di Piala Dunia kali ini. Tetapi Brasil terlihat lebih agresif dengan 40 tembakan, jauh di atas Jepang yang mencatat 27 tembakan.

Keunggulan Brasil juga terlihat dari xG yang mencapai 6,19, sedangkan Jepang hanya 2,92. Penguasaan bola Brasil pun sedikit lebih tinggi, 49 persen berbanding 46 persen milik Jepang.

Data itu menunjukkan Jepang harus bermain sangat efisien bila ingin memperpanjang kiprah tim Asia. Kedisiplinan taktis dan kerja sama kolektif menjadi senjata utama mereka untuk meredam kreativitas Brasil.

Australia punya jalan yang lebih terbuka

Jika Jepang dihadapkan pada ujian paling berat, Australia justru dianggap punya peluang lebih realistis. Runner-up Grup D itu akan bertemu Mesir di Arlington, Texas, Jumat (3/7/2026).

Secara peringkat FIFA, kedua tim juga tidak terpaut jauh. Australia berada di posisi ke-28, sedangkan Mesir berada di peringkat ke-26.

Australia mengandalkan keunggulan fisik, stamina, dan organisasi pertahanan yang disiplin. Mereka juga berbahaya dalam bola mati, baik saat menyerang maupun bertahan.

Mesir tetap membawa ancaman besar

Mesir tidak datang dengan skuad sembarangan. Tim ini punya perpaduan pemain yang merumput di kompetisi elite Eropa dan pilar dari klub besar domestik seperti Al Ahly dan Zamalek.

Mohamed Salah tetap menjadi figur utama dan salah satu penyerang sayap terbaik di dunia. Australia perlu menjaga detail kecil agar tidak kehilangan momentum di laga yang secara teori masih terbuka bagi mereka.

Sebelumnya, tim-tim Asia sempat memberi awal yang menjanjikan. Enam wakil AFC tidak terkalahkan pada laga pertama, termasuk Jepang yang menahan Belanda 2-2, Korea Selatan yang menang 2-1 atas Ceko, dan Australia yang menundukkan Turki 2-0.

Qatar dan Arab Saudi juga sempat mencuri hasil imbang 1-1 melawan Swiss dan Uruguay. Namun, Irak, Uzbekistan, dan Jordania langsung kalah, lalu persaingan berikutnya membuat banyak wakil Asia kesulitan menjaga momentum.

Sampai titik ini, Iran dan Korea Selatan masih harus menunggu laga terakhir penyisihan grup. Iran berada di peringkat keenam klasemen sementara peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol nol setelah bermain imbang 1-1 melawan Mesir.

Korea Selatan berada dalam posisi paling rawan. Tim itu menempati peringkat kedelapan atau posisi terakhir peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol minus 1, sementara beberapa tim lain masih bisa menggusur mereka.

Aljazair masih bisa menyalip Korea Selatan jika bermain imbang melawan Austria, sedangkan DR Congo masih punya peluang lewat kemenangan atas Uzbekistan yang sudah tersingkir. Situasi ini membuat fase gugur benar-benar menjadi saringan pertama yang keras bagi kekuatan Asia.

Source: www.kompas.id

Terkait