Jatimulyo Ubah Burung Buruan Jadi Sumber Hidup Warga, Konservasi yang Menguntungkan

Jatimulyo di Kulon Progo menunjukkan bahwa konservasi tidak harus berlawanan dengan ekonomi warga. Di desa ini, burung yang dulu diburu justru berubah menjadi sumber penghidupan baru.

Perubahan itu membuat Jatimulyo dikenal sebagai Desa Ramah Burung. Dalam waktu sekitar satu dekade, desa yang semula lekat dengan perburuan burung itu membangun identitas baru lewat perlindungan satwa dan ekowisata.

Aturan desa jadi titik balik

Perubahan besar di Jatimulyo mulai terlihat pada 2014, ketika pemerintah desa menetapkan Peraturan Desa Nomor 8 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup. Kebijakan ini menggeser cara pandang warga terhadap satwa liar, dari objek buruan menjadi aset yang harus dijaga bersama.

Menurut jurnal berjudul Ekowisata di Desa Jatimulyo Kulonprogo, Benang Merah Konservasi Burung dan Pariwisata, kebijakan itu kemudian mendorong lahirnya berbagai inisiatif konservasi berbasis masyarakat. Jatimulyo pun tercatat menjadi habitat bagi lebih dari 100 jenis burung dan mulai dikenal sebagai tujuan pengamatan burung.

Warga ikut terlibat, bukan hanya menonton

Model konservasi di Jatimulyo tidak berhenti pada pemasangan aturan. Edukator konservasi dan kreator konten lingkungan Mutia Hanifah atau Mudi menilai pendekatan di desa ini memberi ruang besar bagi warga untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa.

Menurut Mudi, program-program konservasi dijalankan dengan menggunakan jasa warga desa sendiri. Pola ini membuat masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton, dalam kegiatan menjaga lingkungan.

Salah satu program yang menonjol adalah adopsi sarang burung. Lewat skema itu, warga ikut menjaga sarang sampai telur menetas dan anak burung bisa terbang bebas.

Aktivitas tersebut juga dihubungkan dengan manfaat ekonomi bagi warga yang terlibat. Dengan begitu, perlindungan satwa berjalan beriringan dengan peluang penghidupan yang nyata di tingkat desa.

Ekowisata ikut menggerakkan ekonomi lokal

Semakin banyak burung yang terjaga membuat pengamat burung datang ke Jatimulyo. Kehadiran pengunjung ini memicu pertumbuhan usaha baru, mulai dari penginapan hingga jasa pemandu.

Usaha pendukung pariwisata lain juga ikut berkembang seiring naiknya minat kunjungan. Dari sini terlihat bahwa konservasi yang dirancang dengan melibatkan warga bisa menghasilkan dampak ganda, yakni memulihkan ekosistem sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Bagi Jatimulyo, nilai burung berubah total. Hewan yang dulu diburu kini menjadi daya tarik utama, dan perubahan itu menjadi dasar kuat bagi tumbuhnya ekowisata yang bertumpu pada keberlanjutan.

Mudi menilai kekuatan pendekatan Jatimulyo ada pada keberanian menyeimbangkan dua kepentingan sekaligus. Perlindungan satwa dijalankan tanpa mengabaikan kebutuhan kesejahteraan warga desa.

Identitas baru yang lahir dari kerja kolektif

Pengalaman Jatimulyo memperlihatkan bahwa identitas desa ramah lingkungan tidak lahir secara instan. Ia terbentuk dari aturan desa, keterlibatan warga, dan manfaat ekonomi yang benar-benar terasa di lapangan.

Di tengah anggapan bahwa konservasi sering membatasi aktivitas ekonomi, Jatimulyo justru menghadirkan contoh berbeda. Habitat burung tetap terjaga, pengamatan burung berkembang, dan warga mendapat peluang usaha dari praktik menjaga alam.

Karena itu, Jatimulyo sering dilihat sebagai benang merah antara konservasi burung dan pariwisata. Di sana, alam tidak hanya dilindungi, tetapi juga dijadikan fondasi kehidupan ekonomi warga.

Source: www.suara.com

Terkait