Jawa Tengah mendorong 11 provinsi lain untuk menyusun strategi ketahanan pangan yang lebih kuat di tengah tekanan perubahan iklim. Lewat forum lintas daerah itu, pasokan pangan, distribusi antarprovinsi, dan kepastian serapan hasil panen diposisikan sebagai satu paket solusi.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Business Meeting Forum Mitra Praja Utama 2026 di Hotel Tentrem, Kota Semarang. Forum bertema “Sinergi Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan sebagai Strategi Mitigasi Dampak Perubahan Iklim” itu mempertemukan 12 provinsi anggota.
Kerja sama antardaerah jadi kunci
Provinsi yang terlibat meliputi Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau. Dalam forum ini, setiap daerah diarahkan saling melengkapi kebutuhan pangan sesuai potensi unggulan masing-masing.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno menilai pola kerja sama seperti itu penting agar hasil produksi pertanian dari satu daerah bisa terserap di wilayah lain. Skema ini ditujukan untuk menjaga kebutuhan pangan tetap aman sekaligus memberi kepastian pasar bagi petani.
Menurut Sumarno, forum tersebut juga dapat memetakan daerah yang punya produk tertentu dan daerah lain yang membutuhkan. Dengan begitu, produk anggota Mitra Praja Utama memiliki jalur penyerapan yang lebih jelas antardaerah.
Tekanan iklim dan tantangan pertanian
Sumarno menegaskan tantangan pangan saat ini semakin kompleks karena perubahan iklim memengaruhi cuaca dan pola tanam. Potensi kemarau panjang tahun ini juga diperkirakan memberi tekanan tambahan pada sektor pertanian di berbagai daerah.
Di luar faktor cuaca, pertanian masih menghadapi alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan, dan berkurangnya minat generasi muda. Jawa Tengah pun terus mendorong inovasi agar sektor ini lebih menarik bagi kalangan milenial.
Karena itu, Sumarno berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertemuan seremonial. Ia ingin sinergi antardaerah diterjemahkan menjadi penguatan rantai pasok, peningkatan konektivitas, serta peluang investasi dan kerja sama usaha.
Dorongan agar lahir aksi nyata
Direktur Eksekutif FKD MPU Suhajar Diantoro juga melihat forum ini sebagai bentuk kolaborasi nyata untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan bersama. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Zulfikri Armada, ia mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas penyelenggaraan forum itu.
Suhajar berharap forum ini menjadi ruang interaksi yang melahirkan aksi nyata, bukan hanya ruang temu. Ia juga ingin muncul kesepakatan bisnis dan kontrak kerja sama yang berkelanjutan antardaerah anggota.
Dengan komposisi 12 provinsi dan fokus pada sinergi pangan serta energi berkelanjutan, forum ini menempatkan kerja sama regional sebagai jawaban atas tekanan yang datang dari iklim, produksi, dan distribusi. Bagi Jawa Tengah, agenda tersebut bukan sekadar koordinasi, tetapi upaya membangun jaminan pasok yang lebih stabil di tengah ketidakpastian sektor pangan.
Source: rri.co.id






