
Jawa Tengah menyiapkan 2027 sebagai tahun pengunci bagi dua sektor yang dinilai paling siap mendorong lompatan ekonomi baru: pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah. Pemerintah provinsi melihat keduanya bukan sekadar program pendukung, tetapi mesin pertumbuhan yang bisa mengangkat daerah secara lebih luas.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut fondasi pembangunan lain lebih dulu disiapkan, mulai dari infrastruktur yang ditargetkan siap sejak 2025 hingga penguatan swasembada pangan pada 2026. Dari titik itu, 2027 diarahkan untuk mempercepat pengembangan pariwisata sebagai fokus utama.
Lonjakan wisata jadi dasar pilihan
Arah kebijakan ini bertumpu pada kinerja sektor wisata yang terus menanjak. Pada 2025, sektor pariwisata Jawa Tengah tumbuh 10,60%, sementara kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto daerah juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kontribusi pariwisata terhadap PDRB Jawa Tengah tercatat 3,29% pada 2022. Angka itu naik menjadi 3,40% pada 2023, lalu 3,56% pada 2024, dan mencapai 3,74% pada 2025.
Kenaikan itu ikut diikuti lonjakan kunjungan wisatawan. Jika pada 2022 jumlah kunjungan tercatat 46,6 juta, pada 2025 angkanya sudah menembus 74,4 juta.
Akumulasi pertumbuhan kunjungan tersebut mencapai 59,73%. Pemerintah provinsi menilai capaian itu menunjukkan daya tarik Jawa Tengah yang kompetitif dan masih punya ruang besar untuk diperkuat.
Modal alam, budaya, dan wisata halal
Jawa Tengah juga memiliki bekal destinasi yang dianggap lengkap. Ahmad Luthfi menyebut potensi daerah ini mencakup wisata alam, kuliner, hingga industri wastra yang bisa diolah menjadi daya tarik lebih besar.
Penguatan pariwisata syariah mendapat dorongan tambahan dari pengakuan UNESCO terhadap berbagai produk budaya lokal. Pengakuan ini dipandang sebagai modal penting untuk memperluas wisata ramah muslim di Jawa Tengah.
Sejumlah wilayah disebut memiliki potensi yang menonjol, terutama Banjarnegara, Wonosobo, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap. Kawasan-kawasan itu dikenal kuat di wisata alam dan agro, meski pemerintah menilai pemetaan yang lebih komprehensif masih dibutuhkan agar pengembangannya lebih terintegrasi.
Di sisi lain, pemerintah provinsi ingin desa-desa wisata yang sudah pernah dibina tidak berhenti sebagai formalitas. Desa wisata didorong tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang benar-benar menghidupkan aktivitas masyarakat setempat.
Daerah mulai menyusun langkah
Sejumlah kepala daerah yang hadir dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendopo Kabupaten Banjarnegara menyatakan siap menyesuaikan program daerah dengan arah baru provinsi. Mereka melihat pariwisata dan ekonomi syariah sebagai peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di wilayah masing-masing.
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menyebut daerahnya akan mengoptimalkan destinasi wisata zona dua di Kawasan Pegunungan Dieng. Area itu disebut belum banyak dieksplorasi, padahal dinilai menyimpan potensi ekonomi yang besar.
Amalia juga menyoroti kesamaan karakter geografis Banjarnegara dengan Wonosobo dan Purbalingga. Menurut dia, kondisi itu memberi keunggulan untuk pengembangan wisata alam, terutama jika desa wisata di kawasan pegunungan ikut diperkuat.
Di Cilacap, Pelaksana Tugas Bupati Ammy Amalia Fatma Surya mengatakan daerahnya memiliki 19 desa wisata yang dikelola mandiri. Namun, destinasi yang dikelola langsung pemerintah kabupaten baru satu, yakni pemandian Cipari, yang kondisinya disebut cukup memprihatinkan.
Pemkab Cilacap kemudian menyiapkan penataan ulang destinasi wisata secara menyeluruh agar lebih berkelanjutan. Daerah itu juga membidik revitalisasi kawasan Teluk Penyu dan Benteng Pendem melalui koordinasi intensif dengan Kementerian Kebudayaan.
Cilacap turut menyatakan komitmen untuk mendorong wisata syariah dan penguatan ekonomi syariah secara paralel. Langkah ini diharapkan memperluas pasar pariwisata Jawa Tengah sekaligus membuatnya lebih spesifik dan kompetitif.
Dengan modal pertumbuhan kunjungan, basis budaya yang kuat, dan dukungan daerah, Jawa Tengah kini mengarahkan mesin barunya ke sektor yang dinilai paling cepat memberi efek ganda. Pada 2027, pariwisata syariah dan ekonomi syariah diposisikan sebagai penopang baru bagi pertumbuhan daerah.
Source: semarang.bisnis.com




