Jalan Pegunungan Dibuat Berkelok Bukan Karena Boros, Ini Alasan Keselamatannya

Jalan pegunungan yang tampak berkelok ternyata bukan hasil desain yang dibuat sekadar agar terlihat rumit. Di balik tikungan panjang dan jalur memutar itu, ada alasan ilmiah yang langsung terkait dengan keselamatan pengendara.

Penjelasan ini kembali ramai dibahas setelah sebuah unggahan di media sosial menampilkan foto jalan pegunungan dengan garis merah lurus sebagai pembanding. Unggahan dari akun Facebook Romansa Sopir Truck itu memicu banyak komentar, termasuk anggapan bahwa jalan lurus justru akan lebih berbahaya di medan tinggi.

Dosen Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Asri Nurdiana, menjelaskan bahwa jalan di pegunungan dibuat berkelok untuk mengurangi kelandaian. Menurut dia, kelandaian menjadi faktor penting saat perencana jalan bekerja di wilayah berbukit dan bergunung.

Jika jalur dipaksakan lurus mengikuti jarak terpendek, kemiringannya akan menjadi jauh lebih besar. Kondisi itu membuat kendaraan lebih sulit melintas, terutama saat harus menanjak atau menurun dengan sudut yang lebih tajam.

Mengapa jalur berkelok lebih aman

Dengan dibuat berkelok, panjang lintasan menjadi lebih besar sehingga perubahan elevasi bisa dibagi bertahap. Hasilnya, tanjakan dan turunan menjadi lebih landai dibandingkan jika jalan ditarik lurus menembus lereng.

Perbedaan ini penting bagi kendaraan karena jalan yang lebih landai membantu kendaraan melaju dengan lebih aman dan terkendali. Di pegunungan, pengemudi tidak hanya menghadapi tanjakan, tetapi juga turunan, tikungan, dan perubahan kontur yang menuntut kestabilan kendaraan.

Asri menekankan bahwa desain jalan tidak semata mengejar jarak paling pendek. Perencana harus memastikan kendaraan bisa melewati jalur tersebut dengan aman dalam berbagai kondisi.

Bentuk berkelok sering dianggap kurang efisien karena terlihat lebih panjang. Namun, pada wilayah pegunungan, bentuk itu justru menjadi solusi teknik agar jalur tetap bisa digunakan dengan risiko yang lebih rendah.

Garis lurus memang terlihat sederhana saat dilihat secara visual. Tetapi pada topografi pegunungan, garis lurus bisa berarti tanjakan atau turunan yang jauh lebih ekstrem.

Menyesuaikan dengan kontur alam

Itu sebabnya banyak jalan di daerah tinggi dibangun memutar mengikuti kontur lahan. Pilihan ini membantu menyesuaikan jalur dengan bentuk permukaan tanah yang naik turun.

Dalam praktiknya, jalan yang mengikuti kontur memberi ruang bagi kendaraan untuk menyesuaikan tenaga dan kecepatan. Pengemudi pun tidak langsung berhadapan dengan perubahan elevasi yang terlalu tajam dalam jarak pendek.

Pada medan seperti ini, keselamatan menjadi faktor utama. Jalan yang terlalu curam dapat menambah beban bagi kendaraan dan memperbesar potensi masalah saat melintas.

Karena itu, tikungan pada jalur pegunungan tidak selalu berarti desain yang rumit tanpa tujuan. Tikungan justru menjadi bagian dari cara menurunkan tingkat kemiringan jalan agar risiko lebih terkendali.

Unggahan yang memancing perdebatan itu dibagikan pada Rabu, 12/8/2020. Hingga berita itu diturunkan, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 200 kali, dengan respons warganet yang beragam dari rasa penasaran hingga penjelasan bahwa jalan lurus akan membahayakan pengguna jalan.

Perbincangan ini menunjukkan bahwa bentuk jalan yang sering dijumpai sehari-hari belum tentu dipahami alasan teknisnya. Dalam kasus jalan pegunungan, pilihan jalur berkelok adalah hasil penyesuaian terhadap kondisi alam demi menjaga keamanan kendaraan dan pengemudi.

Terkait