Taman di Jakarta bisa menghadirkan wajah kota yang jauh lebih teduh, tetapi belum semua ruang hijau itu benar-benar nyaman untuk dipakai semua orang. Di Taman Cattleya, Jakarta Barat, keramaian warga pada Minggu pagi justru memperlihatkan kontras antara taman yang hidup dan fasilitas yang masih tertinggal.
Kegiatan pemetaan yang dilakukan komunitas Ayo ke Taman membaca ruang hijau bukan sekadar sebagai tempat rekreasi. Pengamatan mereka menyoroti akses, fasilitas, serta vegetasi untuk melihat seberapa inklusif sebuah taman kota bagi pengunjungnya.
Keramaian yang belum diimbangi fasilitas
Taman Cattleya dipadati warga sejak sebelum pukul delapan pagi. Ada lansia yang berjalan santai, kelompok senam, hingga keluarga yang menggelar tikar untuk sarapan di bawah pepohonan.
Namun, lonjakan pengunjung juga menampakkan keterbatasan. Antrean panjang terlihat di depan dua bilik toilet, terutama saat anak-anak selesai bermain air.
Area danau ikut menjadi perhatian karena belum dilengkapi pagar pengaman. Papan informasi mengenai tata tertib pengunjung juga dinilai masih sangat minim.
Akses yang masih terasa eksklusif
Masalah lain muncul sejak pintu masuk utama. Gerbang taman dinilai lebih menyerupai akses ke kompleks perumahan elite daripada ruang publik yang terbuka untuk semua kalangan.
Peserta pemetaan menilai kesan itu membuat taman kurang mudah dikenali sebagai fasilitas umum. Di beberapa titik, jalur pedestrian juga bermasalah karena conblock bergelombang dan tidak rata.
Untuk pengguna kursi roda, jalur landai disebut sempit. Peserta juga mencatat belum adanya guiding block bagi penyandang tunanetra, sementara peta kawasan di pintu masuk utama belum tersedia.
Potensi edukasi yang belum dibuka lebar
Di balik kekurangan itu, Taman Cattleya menyimpan kekayaan hayati yang menonjol. Kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan pohon kamboja, janda merana, dan bintaro di berbagai sudut taman.
Kupu-kupu, katak, dan kawanan soang juga terlihat di area yang berbeda. Kekayaan ini dinilai berpotensi menjadi bahan edukasi lingkungan, tetapi belum banyak dijelaskan kepada publik melalui plang informasi.
Nama Cattleya yang diambil dari bunga anggrek pun dinilai belum tercermin di lapangan. Peserta tidak melihat anggrek di sepanjang area taman, sehingga identitas ruang hijau itu terasa belum sepenuhnya terbaca.
Dari taman ke pusat kota, masalahnya saling terhubung
Setelah pemetaan selesai menjelang pukul 11.00 WIB, peserta melanjutkan perjalanan ke Taman Ismail Marzuki di Cikini. Rombongan menempuh rute dengan TransJakarta, kereta komuter, lalu berjalan kaki menuju kawasan TIM yang menjadi salah satu lokasi Jakarta Future Festival.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa kualitas taman tidak bisa dipisahkan dari koneksi ke trotoar, halte, stasiun, dan ruang aktivitas warga lainnya. Catatan soal toilet, akses, informasi, dan jalur pedestrian kemudian berubah menjadi diskusi yang lebih besar tentang kota yang ramah warga.
Sejumlah peserta baru pertama kali mengikuti kegiatan Ayo ke Taman, termasuk mereka yang datang dari Bogor dan Tangerang Selatan. Dari satu hari pemetaan sederhana, Jakarta terlihat bukan hanya lewat luas ruang hijau, tetapi juga lewat siapa yang bisa masuk, merasa aman, dan mendapatkan manfaat darinya.
Taman Cattleya akhirnya memperlihatkan satu hal penting: ruang hijau yang ramai belum tentu sepenuhnya siap melayani publik. Di balik suasana teduh, masih ada pekerjaan besar agar taman kota benar-benar inklusif, mudah diakses, dan berguna sebagai ruang belajar bersama.
