Irene Umar Dorong Film Jadi IP Bernilai Tinggi, Lisensi Dan Merchandising Buka Jalan Baru

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar mendorong agar film tidak dipandang hanya sebagai karya yang berhenti di layar bioskop. Menurutnya, film bisa menjadi pintu masuk menuju bisnis yang lebih luas melalui pengembangan intellectual property atau IP, lisensi, dan merchandising.

Pandangan itu muncul dalam konteks Festival Sinema Australia Indonesia atau FSAI 2026, yang diposisikan sebagai ruang kolaborasi industri kreatif Indonesia dan Australia. Festival yang memasuki tahun ke-11 ini juga memperluas jangkauan ke 11 kota, sembari memperkuat fungsi berbagi pengetahuan dan pengembangan kapasitas pelaku industri film.

Film sebagai awal dari konsumsi lanjutan

Irene menilai pembelian tiket bioskop bukan sekadar transaksi untuk menonton film. Ia melihat pengalaman menonton sebagai bentuk promosi yang bisa memicu minat pada produk turunan dari karya tersebut.

“Pada saat kita membeli tiket untuk menonton film, itu setara dengan kita melihat promosi yang kemudian mendorong kita untuk konsumsi lanjutan. Dari situ lahir potensi besar seperti licensing dan merchandising,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa nilai ekonomi film tidak berhenti pada pendapatan dari penjualan tiket. Ketika sebuah karya punya karakter kuat dan dikenali penonton, karya tersebut dapat berkembang menjadi IP yang hidup lebih lama.

Dalam kerangka itu, lisensi dan merchandise menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang bisa memperpanjang usia ekonomi sebuah film. Karena itu, penguatan IP dinilai penting agar karya tidak hanya sukses sesaat, tetapi juga punya nilai komersial berkelanjutan.

Pasar domestik besar, tapi target luar negeri tetap penting

Irene juga menyoroti perlunya pelaku industri melihat pasar yang lebih luas dari sekadar dalam negeri. Ia menilai Indonesia memang memiliki pasar yang besar, namun skala pasar dunia jauh lebih besar dan perlu mulai dipikirkan sejak awal.

“Indonesia memang besar, tetapi pasar dunia jauh lebih besar. Ini yang harus mulai dipikirkan oleh pelaku industri,” kata Irene.

Dorongan ke pasar global menjadi relevan karena pengembangan IP, lisensi, dan merchandising memerlukan jangkauan yang lebih luas. Dengan pasar yang lebih besar, sebuah film memiliki peluang lebih besar untuk membangun basis penonton, memperpanjang siklus hidup karya, dan membuka ruang bisnis turunan yang lebih beragam.

Pendekatan ini juga menempatkan film sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif yang lebih matang. Karya audio visual tidak lagi hanya dinilai dari performa di bioskop, tetapi juga dari potensinya menembus lintas pasar dan membentuk ekosistem komersial yang lebih panjang.

Jumbo jadi contoh potensi animasi Indonesia

Dari sisi industri, film animasi Jumbo disebut memberi gambaran nyata tentang besarnya peluang film Indonesia. Film ini mencatat lebih dari 10 juta penonton pada 2025 dan masuk jajaran film terlaris sepanjang masa di Indonesia.

Art Supervisor Jumbo, Chris Lee, menyebut capaian tersebut membuka mata banyak pihak terhadap potensi animasi nasional. “Jumbo membuka mata banyak orang mengenai potensi film animasi di Indonesia,” ujarnya.

Capaian itu memperlihatkan bahwa animasi Indonesia dapat menarik perhatian penonton dalam skala besar. Dalam konteks yang lebih luas, keberhasilan seperti ini juga menguatkan argumen bahwa film bisa menjadi basis IP yang kuat untuk dikembangkan ke berbagai bentuk turunan.

Chris juga mengaitkan pengalamannya dalam program beasiswa Australia Awards dengan pemahamannya atas ekosistem film Australia. Pengalaman tersebut memberinya pandangan tambahan soal pendanaan dan kebijakan yang ikut mendukung pertumbuhan industri film.

FSAI 2026 sebagai ruang kolaborasi dan perluasan kapasitas

FSAI 2026 dijadwalkan berlangsung pada 8–23 Mei 2026 di 11 kota, yakni Jakarta, Mataram, Bandung, Surabaya, Manado, Makassar, Kupang, Medan, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Semarang. Festival ini akan menampilkan lima film Australia, dua film karya Alumni Australia di Indonesia, serta empat film pendek Indonesia karya alumni Australian Awards untuk program film pendek.

Susunan program tersebut menunjukkan bahwa FSAI tidak sekadar menjadi ajang pemutaran film. Festival ini juga menjadi ruang pertukaran jejaring, pengetahuan, dan pengalaman antarpelaku industri dari dua negara.

Dengan karakter seperti itu, FSAI 2026 relevan untuk membahas arah baru industri film sebagai sumber ekonomi kreatif yang bisa berkembang melalui IP, lisensi, dan merchandising. Irene Umar memandang arah tersebut penting agar film Indonesia tidak hanya kuat di layar, tetapi juga mampu tumbuh sebagai aset bernilai tinggi di pasar yang lebih luas.

Source: lifestyle.bisnis.com

Baca Juga

Back to top button