Iran menangguhkan komitmennya dalam Memorandum Islamabad dengan Amerika Serikat setelah menuding Washington lebih dahulu menghentikan seluruh kewajibannya. Langkah Teheran ini membuat jalur diplomasi yang sempat dibuka untuk meredakan konflik di Timur Tengah kian berada dalam tekanan.
Penangguhan tersebut bukan penanda bahwa kesepakatan damai berjalan normal, melainkan respons atas dugaan pelanggaran oleh pihak AS. Di saat serangan masih berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, peluang menjalankan isi memorandum pun semakin menyempit.
Teheran Menilai Kewajiban AS Telah Dihentikan
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan AS telah melanggar komitmen yang tercantum dalam Memorandum Islamabad. Menurutnya, pelanggaran itu menjadi alasan Iran tidak lagi merasa berkewajiban melaksanakan bagian kesepakatannya.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita Fars pada Sabtu (18/7/2026), Gharibabadi mengatakan AS telah melanggar dan menghentikan semua komitmennya dalam kerangka memorandum tersebut. Pernyataan itu turut dilaporkan BeritaSatu dalam pemberitaannya mengenai keputusan Iran.
“Dengan demikian, kami juga telah menangguhkan komitmen kami. Kami tidak akan melaksanakannya karena kami sibuk mempertahankan negara ini,” ujar Gharibabadi.
Pernyataan itu menunjukkan posisi Iran yang mengaitkan pelaksanaan kesepakatan dengan tindakan timbal balik dari Washington. Selama Teheran menilai AS tidak menjalankan kewajibannya, Iran menyatakan tidak akan meneruskan komitmen dalam kerangka yang sama.
Kesepakatan Awal yang Kini Kehilangan Ruang
Memorandum Islamabad disepakati Iran dan AS pada Juni melalui mediasi Pakistan. Kesepakatan itu dirancang sebagai langkah awal untuk mengakhiri perang sekaligus membuka jalan menuju perjanjian damai yang permanen dan berkelanjutan.
Kerangka tersebut sebelumnya memberi sinyal bahwa kedua pihak masih memiliki saluran diplomatik di tengah ketegangan. Namun, implementasi memorandum belum mampu menghentikan bentrokan antara Iran dan Amerika Serikat.
Penangguhan komitmen dari Iran menambah keraguan terhadap prospek kesepakatan yang lebih permanen. Pijakan diplomatik yang semula dimaksudkan untuk menekan konflik kini menghadapi tekanan akibat eskalasi militer.
Serangan yang Berlanjut Menghambat Diplomasi
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat karena AS dan Iran masih saling melancarkan serangan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat upaya menurunkan konflik melalui jalur diplomatik semakin sulit diwujudkan.
Dalam situasi tersebut, keputusan Teheran menjadi sinyal bahwa Memorandum Islamabad belum efektif menghentikan pertikaian. Laporan yang tersedia juga tidak memuat keterangan mengenai langkah lanjutan maupun jadwal baru untuk kembali menjalankan kesepakatan.
Keberlanjutan memorandum pada akhirnya bergantung pada pelaksanaan kewajiban oleh kedua pihak. Selama tudingan pelanggaran dan serangan masih berlanjut, jalan menuju perdamaian permanen akan tetap diselimuti ketidakpastian besar.
Source: www.beritasatu.com





