Iran mulai memberi kelonggaran pada akses internet setelah hampir tiga bulan pembatasan membuat komunikasi warga dan aktivitas bisnis terganggu. Langkah ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang makin berat, terutama bagi usaha kecil, pekerja lepas, dan sektor yang sangat bergantung pada koneksi digital.
Pelonggaran itu belum berarti akses kembali normal. Pemerintah Iran masih menerapkan skema Internet Pro yang hanya membuka jalur internet global untuk bisnis tertentu dengan pembatasan yang lebih ringan.
Akses dibuka terbatas untuk kebutuhan ekonomi
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan kebijakan tersebut disiapkan untuk menjaga roda usaha tetap berjalan selama krisis. Ia juga menyebut akses internet sebagai hak sipil, meski praktik di lapangan masih menunjukkan kontrol yang ketat.
Mohajerani menegaskan perubahan status internet akan menunggu penilaian otoritas terkait saat kondisi dinilai normal. Artinya, pemerintah belum mengambil langkah membuka akses penuh, melainkan baru memberikan ruang terbatas untuk kebutuhan ekonomi.
Pembatasan internet di Iran bermula dari awal Januari setelah gelombang protes anti-pemerintah meluas. Koneksi sempat pulih pada Februari, tetapi pemutusan kembali terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Dampak besar bagi warga dan pelaku usaha
Lembaga pemantau NetBlocks menyebut sebagian besar warga Iran tidak dapat mengakses internet global selama sekitar 60 hari terakhir. Hanya sebagian kecil pengguna yang masih bisa terhubung lewat VPN mahal, sementara pengguna lain diarahkan ke intranet domestik milik pemerintah.
Situasi itu membuat banyak warga kesulitan berkomunikasi, menjalankan usaha, dan memakai layanan digital yang biasa digunakan setiap hari. Dalam kondisi normal, Iran memang dikenal menerapkan sensor ketat terhadap banyak situs global.
Pemerintah tetap mengandalkan jaringan domestik untuk layanan publik, termasuk pendidikan daring. Namun, jaringan tersebut tidak sepenuhnya bisa menggantikan fungsi internet global bagi dunia usaha maupun aktivitas ekonomi modern.
Kerugian ekonomi ikut menumpuk
Tekanan ekonomi dari pembatasan internet kini mulai terlihat jelas. Afshin Kolahi dari Kamar Dagang Iran memperkirakan gangguan internet menyebabkan kerugian langsung sebesar US$30 juta hingga US$40 juta per hari.
Ia juga menyebut kerugian total bisa mencapai US$80 juta jika dampak tidak langsung ikut dihitung. Angka itu menunjukkan betapa besar ketergantungan banyak sektor pada koneksi daring untuk operasional harian.
Dampak ekonomi tidak berhenti di bisnis digital. Banyak warga juga kehilangan pekerjaan sejak perang dimulai, sementara harga-harga ikut naik akibat kerusakan pada pabrik, infrastruktur energi, dan jaringan transportasi.
Kelompok yang paling rentan terdampak adalah freelancer dan usaha kecil. Keduanya sangat bergantung pada internet untuk menerima pesanan, berkomunikasi dengan klien, dan menyelesaikan transaksi harian.
Internet masih jadi penentu aktivitas harian
Pembatasan yang berkepanjangan membuat ekonomi digital terpukul, tetapi hambatannya merembet ke sektor lain yang memerlukan koneksi online. Distribusi, layanan pelanggan, dan koordinasi operasional ikut melambat ketika akses internet tidak stabil.
Skema Internet Pro kini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai membuka ruang terbatas di tengah krisis yang masih berjalan. Meski begitu, selama akses penuh belum dipulihkan, warga dan pelaku usaha di Iran tetap harus beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas dan tidak pasti.
Source: www.cnbcindonesia.com






