Iran Dibombardir, AS Klaim Hantam 90 Sasaran dan Balasan Rudal Meluas ke Timur Tengah

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali melonjak tajam setelah serangan udara dibalas dengan rentetan serangan ke fasilitas militer AS di beberapa negara Timur Tengah. Dalam dua hari, konflik itu meluas dari Iran ke Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.

Di tengah eskalasi tersebut, sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas dan 78 lainnya luka-luka di Iran. Serangan balasan Iran juga memicu alarm di negara-negara sekutu AS, meski sejumlah rudal dan drone berhasil dicegat.

Ledakan Baru di Bushehr dan Konarak

Media Iran melaporkan ledakan terdengar di Bushehr dan Konarak, dua wilayah yang kini menjadi sorotan karena masuk dalam area sensitif militer. Bushehr juga merupakan lokasi satu-satunya kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Kantor berita Mehr, seperti dikutip Anadolu Agency, menyebut dua ledakan terdengar di sekitar Bushehr dan Choghadak di Iran selatan. Wakil Gubernur Bushehr Bidang Politik dan Keamanan, Ehsan Jahaniyan, mengatakan sistem pertahanan udara Iran merespons serangan yang datang.

Jahaniyan juga menyebut sebuah fasilitas militer di pinggiran Bushehr menjadi sasaran proyektil yang ditembakkan oleh musuh AS-Zionis. Namun, ia tidak memerinci jenis proyektil maupun tingkat kerusakannya.

Di Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, IRNA melaporkan dua ledakan menghantam zona militer angkatan laut. Gubernur Konarak Mohammad Younis Haqqani mengatakan wilayah itu diserang dalam dua gelombang terpisah oleh jet tempur musuh pada Kamis malam.

AS Mengaku Menyerang Sekitar 90 Sasaran

Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau Centcom menyatakan telah menyerang sekitar 90 sasaran di berbagai wilayah Iran. Rekaman yang dirilis menunjukkan serangan mengenai landasan pacu bandara dan peluncur rudal.

Menurut Centcom, operasi itu ditujukan untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menyebut serangan juga menghantam sejumlah kota pelabuhan di selatan, dan untuk pertama kalinya sejak April, infrastruktur jembatan ikut menjadi target.

PihakTarget atau ResponsInformasi Utama
ASSerangan udara ke IranSekitar 90 sasaran diserang
IranSerangan balasan di kawasanFasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania jadi sasaran

Media pemerintah Iran melaporkan sebuah jembatan kereta api di Provinsi Golestan diserang. Garda Revolusi Iran juga menyatakan dua jembatan menuju Kota Masyhad terkena serangan, kota yang diketahui menjadi lokasi rencana pemakaman Ayatullah Ali Khamenei.

Iran Membalas ke Pangkalan AS di Kawasan

Sebagai balasan atas serangan Washington, Iran meluncurkan serangan ke fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania. Sirene peringatan terdengar sedikitnya tiga kali di Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, dan 10 drone. Meski begitu, serpihan rudal yang jatuh dilaporkan melukai satu orang.

Bahrain menyebut seluruh proyektil berhasil dicegat tanpa merinci dampaknya. Juru bicara Pemerintah Yordania Mohammad Al-Momani juga mengatakan seluruh rudal yang mengarah ke wilayah negaranya berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.

Televisi pemerintah Iran menyatakan Garda Revolusi meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania. Hingga kini belum ada laporan mengenai kerusakan di Qatar.

Korban Tewas dan Luka di Iran

Kementerian Kesehatan Iran menyatakan dua hari serangan udara AS telah menyebabkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban meninggal dilaporkan merupakan anggota angkatan bersenjata Iran.

Sejauh ini, belum ada laporan korban jiwa akibat serangan balasan Iran terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat, selain satu korban luka di Kuwait akibat serpihan rudal. Situasi ini memperlihatkan eskalasi yang masih bergerak cepat dan belum menunjukkan tanda mereda.

Hormuz Jadi Pemicu Utama Eskalasi

Ketegangan meningkat tajam setelah Iran menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz beberapa waktu lalu. Washington menegaskan serangan udara terbaru dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran yang dinilai membahayakan jalur pelayaran internasional.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan sedikitnya 576 kapal melintasi selat itu sepanjang Juni, naik dari 233 kapal pada Mei.

Secara keseluruhan, lebih dari 3.100 kapal tercatat melintasi jalur tersebut selama Juni 2025. Setelah nota kesepahaman sementara antara kedua negara pada bulan lalu, lalu lintas kapal sempat kembali meningkat sebelum gelombang serangan terbaru membuat situasi berubah lagi.

Trump Ancam Respons Lebih Besar

Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata sementara dengan Iran praktis telah berakhir usai menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki. Ia juga mengunggah video ledakan di Iran melalui media sosial sambil memperingatkan Teheran.

Trump mengatakan serangan terbaru merupakan balasan atas penyerangan kapal-kapal di Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan bahwa jika serangan terhadap pelayaran internasional kembali terjadi, respons Amerika Serikat akan jauh lebih besar.

Dalam pernyataannya, Trump kembali mengancam infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik, instalasi desalinasi, dan Pulau Kharg yang menjadi jalur sekitar 90% ekspor minyak Iran. Meski begitu, ia masih membuka peluang negosiasi, walau menilai proses perundingan selama ini hanya membuang waktu.

Pembicaraan mengenai kesepakatan permanen diperkirakan baru akan dimulai setelah rangkaian pemakaman Ayatullah Ali Khamenei selesai. Agenda negosiasi disebut akan mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran.

Diplomasi Masih Dibuka, Namun Ketegangan Belum Surut

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan AS harus menerima konsekuensi bila kembali menyerang Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah berbicara melalui telepon dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, Oman, serta Panglima Militer Pakistan Marsekal Asim Munir.

Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga berbicara lewat telepon dengan Donald Trump pada Kamis malam. Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan percakapan itu membahas langkah militer AS di kawasan Teluk serta operasi terhadap aset-aset Iran.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan belum ada rencana pertemuan langsung antara Trump dan Netanyahu dalam waktu dekat. Namun, pejabat AS lain menyebut Washington masih berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik dengan Iran, meski saling serang di lapangan terus berlangsung.

Dengan serangan udara, balasan rudal, dan ancaman lanjutan dari kedua pihak, kekhawatiran terhadap meluasnya perang AS-Iran terus meningkat. Dampaknya tidak hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tetapi juga keamanan jalur pelayaran internasional yang bergantung pada Selat Hormuz.

Source: www.beritasatu.com
Terkait