Iran Ancam Tutup Lagi Selat Hormuz, Blokade AS Picu Guncangan Pasar Minyak Global

Iran kembali mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz jika blokade Amerika Serikat terhadap kapal dan pelabuhan Iran terus berlanjut. Isyarat ini langsung memicu perhatian pasar energi global karena jalur tersebut menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia.

Selat Hormuz memang dikenal sempit, tetapi perannya sangat besar dalam rantai pasok energi internasional. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global melintas di jalur ini, sehingga setiap gangguan kecil saja dapat memicu kekhawatiran soal harga dan keamanan pengiriman.

Ancaman Teheran kembali menguat

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan sikap keras lewat platform X. Ia menyebut bahwa jika blokade terus berjalan, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka, dan lalu lintas di sana akan membutuhkan izin Iran.

Nada serupa datang dari juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baqaei. Ia menegaskan bahwa pembukaan atau penutupan selat tidak ditentukan oleh pernyataan di dunia maya, melainkan “di lapangan,” seraya menyebut angkatan bersenjata Iran tahu cara merespons tindakan lawan.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran masih memandang Selat Hormuz sebagai alat tekan yang paling efektif dalam menghadapi Washington. Jalur ini juga menjadi pintu penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar Asia, Eropa, dan Amerika.

Optimisme Washington dan bantahan Teheran

Ancaman Iran muncul ketika Washington justru memberi sinyal optimisme. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada AFP bahwa kesepakatan damai dengan Iran “sangat dekat” dan menyebut ada kemajuan dalam pembahasan mengenai uranium yang diperkaya.

Trump juga mengklaim Iran telah sepakat menyerahkan stok uranium yang diperkaya, tetapi Teheran membantah klaim tersebut. Iran menegaskan cadangan uranium itu tidak akan dipindahkan, sehingga isu itu tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam pembicaraan yang lebih luas.

Dalam pernyataan terpisah di hadapan kelompok konservatif Turning Point USA di Phoenix, Arizona, Trump mengatakan bahwa upaya pengambilan uranium itu akan dilakukan dengan melibatkan alat berat. Pernyataan ini menambah kesan bahwa hubungan kedua pihak masih jauh dari stabil.

Mengapa Selat Hormuz selalu jadi titik rawan

Selat Hormuz sering menjadi pusat perhatian setiap kali ketegangan di Teluk naik. Jalur air ini memang sempit, tetapi jika aliran energi di sana terganggu, dampaknya bisa merambat cepat ke harga minyak, biaya logistik, dan sentimen pasar internasional.

Ada beberapa alasan Hormuz sangat sensitif bagi ekonomi global. Jalur ini dipakai sebagai rute utama ekspor energi dari negara-negara produsen besar di Teluk, dan gangguan apa pun hampir selalu langsung terasa di pasar minyak.

Selain itu, lokasi ini juga rawan konfrontasi militer dan inspeksi kapal. Karena itu, setiap ancaman penutupan biasanya memicu spekulasi baru soal premi risiko pengiriman dan potensi lonjakan harga energi.

Dampak ke pasar dan geopolitik kawasan

Saat jalur itu sempat dibuka kembali setelah kesepakatan gencatan senjata di Lebanon, harga saham menguat dan harga minyak bergerak turun. Respons itu menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kabar dari Hormuz terhadap ekspektasi pasar.

Namun ancaman terbaru Iran membalik sentimen dengan cepat. Jika blokade tetap berlanjut dan kapal yang keluar dari pelabuhan Iran diintersepsi kapal perang Amerika, tekanan pada pasar minyak bisa meningkat lagi dan menambah kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan global.

Di sisi lain, pemerintah AS juga sempat mengeluarkan waiver baru untuk penjualan minyak Rusia dan produk minyak yang sudah berada di laut. Langkah ini berpotensi menambah pasokan ke pasar, tetapi tidak sepenuhnya meredakan kekhawatiran atas ketegangan di Teluk.

Situasi politik di kawasan masih rapuh, termasuk akibat perkembangan di Lebanon yang ikut membentuk konteks lebih luas. Selama blokade, inspeksi kapal, dan ketegangan regional belum mereda, Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif yang terus dipantau pasar energi dunia.

Terkait