Insentif Kendaraan Listrik Masih Abu-Abu, Pasar Menahan Diri dan Industri Tertekan

Kepastian insentif kendaraan listrik belum juga muncul, dan dampaknya sudah terasa di pasar. Konsumen memilih menunggu, sementara pelaku industri mulai merasakan tekanan karena penjualan tertahan.

Situasi ini membuat sinyal pemulihan pasar belum benar-benar kuat. Di tengah ketidakjelasan skema, keputusan membeli kendaraan listrik cenderung ditunda sambil menanti arah kebijakan yang lebih jelas.

Industri khawatir momentum terlewat

Kementerian Perindustrian menilai ketidakpastian insentif berisiko mengganggu gairah industri otomotif dalam negeri. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri meminta pengambil kebijakan di kementerian dan lembaga lain segera memberi kepastian agar pasar tidak terus menahan diri.

Febri juga menyebut Kemenperin terus berkolaborasi dengan berbagai asosiasi industri untuk memperkuat pemasaran produk manufaktur nasional. Langkah itu diarahkan untuk menjaga momentum penjualan pada semester II.

Kepercayaan pasar ikut terancam

Masalahnya tidak berhenti pada penjualan jangka pendek. Penundaan insentif dinilai bisa merusak kepercayaan pasar dan pada akhirnya menahan laju investasi.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi Institute for Essential Services Reform, Deon Arinaldo, menyebut ada tanda-tanda keputusan investasi mulai bergeser. Pada bulan Juni, menurut dia, ada indikasi dua pabrikan otomotif yang memilih beralih ke bisnis kendaraan listrik tetapi merelokasi fasilitasnya ke Vietnam.

Isu UtamaDampak yang DisebutkanKeterangan
Insentif kendaraan listrik belum pastiKonsumen menunda pembelianPasar menunggu skema yang lebih jelas
Penjualan tertahanIndustri otomotif tertekanKemenperin ingin momentum semester II tetap terjaga
Ketidakpastian berkepanjanganKepercayaan pasar dan investasi berisiko turunIESR menilai ada tanda pergeseran keputusan investasi

Skema motor listrik juga belum berjalan

Di sisi lain, insentif pembelian sepeda motor listrik juga belum berjalan sesuai harapan. Skema itu ditunda selama satu bulan ke depan, padahal sebelumnya sempat dijanjikan mulai berlaku pada Juli.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pada Selasa (23/6) bahwa penundaan terjadi karena skema insentif masih dalam tahap kajian. Penundaan itu disebut sudah terjadi dua kali, setelah penundaan pertama diumumkan oleh Purbaya dengan alasan serupa.

Ruang fiskal dinilai masih ada

Institute for Essential Services Reform menilai pemerintah masih punya ruang fiskal yang memadai untuk memberi insentif menarik bagi calon pengguna KBLBB. Perhitungannya, satu unit motor listrik bisa menghemat subsidi BBM sebesar Rp18 juta selama masa pakai 10 tahun, dengan asumsi harga keekonomian BBM sekitar Rp15.000 per liter pada Mei 2026.

Jika manfaat eksternal ikut dihitung, termasuk pengurangan polusi udara, nilai karbon, dan penghematan devisa, angka penghematan itu naik menjadi Rp37 juta per motor listrik. Perhitungan tersebut memperkuat alasan bahwa kepastian kebijakan bisa menjadi kunci untuk mendorong adopsi kendaraan listrik lebih cepat.

Terkait