Inflamasi Kardiovaskular Masih Mengintai, 2 dari 5 Pasien Belum Tersentuh Terapi Tepat

Author: Cung Media

Inflamasi kardiovaskular masih menjadi risiko residual yang besar pada pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, meski banyak di antaranya sudah mendapat terapi sesuai standar. Studi POSEIDON menunjukkan dua dari lima pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik, penyakit ginjal kronis, dan gagal jantung masih memiliki inflamasi yang terdeteksi.

Temuan ini menegaskan bahwa pengendalian kolesterol, tekanan darah, dan gula darah belum cukup untuk menutup seluruh risiko. Pada banyak pasien, inflamasi tetap bertahan dan dapat ikut mendorong serangan jantung, stroke, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Inflamasi yang kerap luput dari perhatian

Inflamasi kardiovaskular adalah peradangan pada pembuluh darah yang berbeda dari peradangan karena infeksi. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala, tetapi bila berlangsung lama dapat memperburuk risiko kejadian kardiovaskular serius.

Dalam studi POSEIDON, inflamasi diukur dengan high-sensitivity C-reactive protein atau hsCRP, memakai ambang ≥2 mg/L. Pemeriksaan darah ini disebut sebagai salah satu metode yang paling umum dan luas tersedia untuk menilai adanya inflamasi kardiovaskular.

Kelompok Pasien Jumlah Dalam Studi Temuan Utama
Penyakit kardiovaskular aterosklerotik 13.475 2 dari 5 pasien mengalami inflamasi kardiovaskular
Dengan penyakit ginjal kronis 5.757 42,7 persen dari kelompok ini juga memiliki penyakit ginjal kronis
Gagal jantung 11.809 2 dari 5 pasien memiliki inflamasi kardiovaskular

Skala masalah yang masih besar

Studi POSEIDON melibatkan 18.904 pasien dari 18 negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia-Pasifik. Kelompok gagal jantung yang diteliti mencakup seluruh spektrum, mulai dari fraksi ejeksi yang dipertahankan, sedikit menurun, hingga menurun.

Di Indonesia, penyakit kardiovaskular seperti stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut penyakit kardiovaskular menyumbang 30 persen kematian di Indonesia.

Karena itu, temuan soal inflamasi residual ini menjadi penting. Risiko kardiovaskular tidak hanya datang dari faktor klasik, tetapi juga dari proses peradangan yang masih bisa aktif pada banyak pasien meski terapi dasar sudah diberikan.

Implikasi pada penyakit ginjal kronis dan gagal jantung

Pada penyakit kardiovaskular aterosklerotik, inflamasi disebut berperan penting dalam perkembangan dan progresivitas penyakit. Sejumlah penelitian juga menunjukkan pasien dengan inflamasi kardiovaskular memiliki risiko lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor.

Hubungan serupa terlihat pada penyakit ginjal kronis. Inflamasi dapat mendorong progresivitas CKD, sementara CKD sendiri juga bisa memicu inflamasi, sehingga terbentuk siklus yang memperburuk risiko kardiovaskular.

Pada gagal jantung, inflamasi dilaporkan umum ditemukan di seluruh tipe penyakit ini. Kondisi tersebut terutama menonjol pada pasien dengan obesitas, penyakit ginjal, dan gangguan metabolik lainnya.

Peneliti menyoroti peluang terapi yang lebih tepat sasaran

Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk, menyebut inflamasi kardiovaskular tetap menjadi sumber risiko yang signifikan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik, penyakit ginjal kronis, dan gagal jantung, meski sudah menerima terapi standar. Ia menilai pemahaman atas cakupan risiko inflamasi penting untuk mendukung riset terapi yang lebih sesuai kebutuhan pasien.

Profesor Carolyn S.P. Lam dari National Heart Centre Singapore menilai inflamasi bukan sekadar isu tambahan. Ia menegaskan temuan POSEIDON membuka peluang untuk mengidentifikasi pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi yang secara langsung menargetkan inflamasi.

Masuk ke perhatian pedoman klinis

Perhatian terhadap inflamasi juga mulai tercermin dalam pedoman klinis terbaru dari European Society of Cardiology, American Heart Association, dan American College of Cardiology. Pedoman itu memasukkan peningkatan kadar hsCRP sebagai biomarker yang dapat membantu memodifikasi penilaian risiko dan menentukan kebutuhan strategi pencegahan yang lebih intensif.

Temuan ini memperkuat bahwa pengelolaan penyakit kardiovaskular tidak cukup berhenti pada angka kolesterol atau tekanan darah. Pada banyak pasien, inflamasi masih menjadi pemicu risiko yang perlu dikenali lebih awal agar penanganan bisa lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru