Indonesia masuk ke kelompok awal pembentuk World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO. Posisi sebagai negara pendiri memberi Indonesia ruang untuk ikut membahas arah kerja sama, etika, dan tata kelola AI di tingkat internasional.
Keterlibatan ini juga membuka peluang yang lebih luas bagi riset, investasi, serta pengembangan ekonomi digital nasional. Pemerintah memandang sektor teknologi bernilai tambah tinggi sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru yang dapat didorong melalui kolaborasi global.
Ruang Indonesia dalam Tata Kelola AI Global
WAICO dirancang untuk memperkuat inovasi kecerdasan artifisial secara global dengan pendekatan yang terbuka, inklusif, dan bertanggung jawab. Organisasi tersebut juga membawa tujuan agar manfaat AI dapat diakses oleh seluruh negara, bukan hanya negara dengan kemampuan teknologi yang lebih maju.
Bagi Indonesia, keanggotaan pendiri berarti kesempatan untuk menyelaraskan tata kelola AI nasional dengan praktik internasional. Pada saat yang sama, Indonesia dapat membawa kepentingan pembangunan digital dalam negeri ke forum kerja sama antarnegara.
Kerja sama yang difasilitasi WAICO mencakup pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan perluasan akses teknologi AI. Forum ini juga akan menjadi wadah untuk mengoordinasikan strategi pengembangan AI serta membicarakan aspek etikanya di level internasional.
| Agenda | Tanggal | Lokasi | Peran Indonesia |
|---|---|---|---|
| Penandatanganan pendirian WAICO | 16 Juli 2026 | Shanghai, Tiongkok | Delegasi dipimpin Airlangga Hartarto |
| Informal Preparatory Session WAICO | 17 Juli 2026 | Tidak disebutkan | Delegasi dipimpin Angga Raka Prabowo |
Masuk Kelompok 29 Negara Pendiri
Penandatanganan pendirian WAICO dilakukan di Shanghai, Tiongkok, pada 16 Juli 2026. Delegasi Indonesia dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, didampingi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo.
Indonesia menjadi bagian dari 29 negara pendiri organisasi tersebut. Negara lain dalam kelompok awal itu antara lain China, Brasil, Rusia, Malaysia, Afrika Selatan, Pakistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Serbia, Kenya, Ethiopia, Venezuela, dan Zambia.
Seremoni pendirian WAICO turut dihadiri Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres. Organisasi ini dirancang sebagai lembaga antarpemerintah yang independen dan nirlaba dalam kerangka kerja PBB.
Komposisi negara pendiri yang melibatkan sejumlah negara berkembang memberi konteks penting bagi agenda akses teknologi dan penguatan kapasitas. Indonesia berpeluang menggunakan forum ini untuk memperluas kolaborasi teknologi, riset, dan investasi dalam pengembangan ekosistem AI Indonesia.
Agenda Awal Setelah Penandatanganan
Setelah penandatanganan, delegasi Indonesia dijadwalkan mengikuti Informal Preparatory Session on the Establishment of WAICO pada 17 Juli 2026. Forum persiapan itu membahas langkah operasional organisasi dan peluang kerja sama konkret di bidang kecerdasan artifisial.
Dalam pertemuan tersebut, Angga Raka Prabowo memimpin delegasi Indonesia sebagai ketua delegasi. Tahap awal ini menjadi ruang bagi negara-negara pendiri untuk menerjemahkan tujuan WAICO ke dalam agenda kerja yang lebih terarah.
Dalam pernyataan yang dikutip inet.detik.com pada 18 Juli 2026, Angga menyebut keikutsertaan Indonesia sebagai momentum strategis. “Keikutsertaan Indonesia dalam WAICO merupakan momentum strategis untuk memperkuat tata kelola AI nasional yang selaras dengan praktik terbaik internasional, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas negara dalam perkembangan ekosistem AI yang inklusif dan bertanggung jawab,” ujar Angga.
Arah kerja WAICO berikutnya akan menentukan seberapa luas akses negara anggota terhadap pengembangan kapasitas, teknologi, dan koordinasi kebijakan AI global. Bagi Indonesia, keterlibatan sejak awal menempatkan agenda riset, investasi, dan pembangunan digital dalam percakapan internasional yang lebih luas.
Source: inet.detik.com






