IHSG membuka perdagangan dengan penguatan tipis di tengah dua sentimen besar yang sama-sama menarik perhatian pasar, yakni euforia sektor AI dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi itu memberi ruang bagi indeks untuk kembali menguji area psikologis 5.900.
Indeks Harga Saham Gabungan naik 10,36 poin atau 0,17% ke 5.934, sementara LQ45 bergerak sangat terbatas di 589,28 atau menguat 0,01% setara 0,03 poin. Pergerakan yang cenderung hati-hati ini menunjukkan investor masih menimbang dorongan eksternal dengan kondisi domestik yang belum sepenuhnya ringan.
Ruang Rebound Masih Terbuka
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai peluang technical rebound IHSG masih terbuka lebar. Dalam kajian tertulis yang dikutip mediaindonesia.com, ia menyebut indeks perlu bertahan di atas area 5.900-5.882 agar penguatan tetap terjaga.
Jika area itu mampu dipertahankan, target berikutnya berada di rentang 5.948-6.000. Bagi pasar, level tersebut menjadi penentu apakah reli awal bisa berlanjut atau kembali tertahan oleh sikap wait and see investor.
| Indeks | Posisi | Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 5.934 | +0,17% (+10,36 poin) |
| LQ45 | 589,28 | +0,01% (+0,03 poin) |
Sentimen teknologi global masih menjadi bahan bakar utama bagi optimisme pasar. Saham SK Hynix dilaporkan melonjak 13% di atas harga IPO saat debut di bursa Nasdaq, AS, sementara investor juga mulai melakukan positioning menjelang musim laporan keuangan kuartal II-2026.
Ekspektasi terhadap emiten S&P 500 ikut memberi dukungan. Laba kuartal II-2026 diproyeksikan tumbuh 24% secara tahunan, dengan dorongan utama datang dari sektor AI.
Geopolitik Bantu Redakan Tekanan Harga Minyak
Dari sisi geopolitik, pasar mendapat sedikit napas tambahan setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesediaan melanjutkan pembicaraan dengan Iran. Pernyataan itu membantu menenangkan investor yang sebelumnya cemas terhadap arah ketegangan di Timur Tengah.
Meredanya kekhawatiran tersebut ikut menekan harga minyak dunia, sehingga tekanan terhadap inflasi global sedikit berkurang. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong pasar Asia, termasuk Indonesia, dibuka dengan nada lebih positif.
Data Fiskal Domestik Masih Membatasi Ruang Gerak
Di dalam negeri, investor juga mencermati realisasi restitusi pajak semester I-2026 yang mencapai Rp171,2 triliun. Angka itu turun 31,5% secara tahunan, dengan penurunan terbesar berasal dari restitusi PPh Badan sebesar 40% dan PPN Dalam Negeri sebesar 29,7%.
Liza menilai perlambatan itu mengindikasikan strategi pemerintah menjaga arus kas. Namun, penundaan pencairan yang berkepanjangan berpotensi menekan likuiditas dunia usaha, sehingga pasar tetap berhati-hati membaca dampaknya.
| Komponen Fiskal | Realisasi | Perubahan |
|---|---|---|
| Restitusi pajak semester I-2026 | Rp171,2 triliun | -31,5% yoy |
| Restitusi PPh Badan | – | -40% |
| PPN Dalam Negeri | – | -29,7% |
Pemerintah juga menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun. Hingga semester I-2026, realisasinya sudah mencapai Rp452 triliun atau 65,6% dari pagu awal, dengan strategi front loading untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar di awal tahun.
Ruang fiskal masih ditopang Saldo Anggaran Lebih sebesar Rp255 triliun, yang memberi pemerintah keleluasaan mengurangi intensitas penerbitan utang di semester II-2026. Investor kini menunggu rilis data inflasi AS bulan Juni 2026 dan kesaksian Gubernur The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk arah suku bunga global berikutnya.
Source: mediaindonesia.com






