IHSG Terpeleset Ke 6.956, Asing Kabur Dan Rupiah Melemah Menambah Tekanan Bursa

IHSG kembali kehilangan tenaga dan ditutup di level 6.956 pada Kamis, 30 April 2026. Posisi itu jauh dari rekor sepanjang masa 9.134 yang sempat dicapai pada Januari, menandai perubahan sentimen pasar yang tajam hanya dalam beberapa bulan.

Tekanan di bursa tidak datang dari satu sumber saja. Koreksi sepanjang April mencapai 3,17 persen, sementara rupiah yang melemah, arus keluar modal asing, dan ketidakpastian geopolitik ikut menekan minat investor.

Modal asing dan kapitalisasi pasar tergerus

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan kapitalisasi pasar menyusut 2,78 persen menjadi Rp 12.382 triliun. Pada akhir April, investor asing juga mencatat aksi jual bersih Rp 1,48 triliun, mempertegas dominasi sikap hati-hati di lantai bursa.

Pelemahan ini makin terasa setelah otoritas MSCI pada 28 Januari 2026 mengumumkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia ke kategori Frontier Market. Isu likuiditas dan aksesibilitas pasar reguler menjadi perhatian utama dalam evaluasi tersebut.

Tekanan domestik ikut memperberat

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pelemahan rupiah, penurunan outlook rating lembaga pemeringkat global, dan kekhawatiran tekanan fiskal domestik menjadi sumber tekanan tambahan. Ia menilai kondisi itu membuat investor perlu lebih selektif dalam mempertahankan saham di portofolio.

Oktavianus juga menekankan bahwa saham yang sudah turun lebih dari 30 persen tidak layak dipertahankan hanya karena harga terlihat murah. Menurut dia, keputusan bertahan harus ditopang fondasi fundamental yang kuat, termasuk kesehatan operasional dan neraca emiten.

Sektor energi dan komoditas mulai dilirik

Di tengah gejolak geopolitik, Oktavianus melihat rotasi sektoral bergerak ke instrumen yang berkorelasi positif, terutama sektor energi dan komoditas. Ia menilai strategi investasi bertahap masih masuk akal, tetapi seleksinya harus lebih ketat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji juga menyoroti pentingnya manajemen risiko saat volatilitas masih tinggi. Ia mendorong investor memanfaatkan peluang technical rebound, namun tetap membeli secara bertahap agar harga rata-rata portofolio lebih kompetitif.

Nafan mengingatkan investor agar tidak menghabiskan seluruh modal sekaligus karena titik terendah pasar sulit dipastikan. Menurut dia, saham murah dengan prospek pertumbuhan jangka panjang tetap bisa menjadi pilihan selama pembelian dilakukan disiplin.

Menunggu data dan reformasi pasar

Nafan juga menyarankan fokus pada saham yang memberi dividen dengan imbal hasil di kisaran 4-7 persen sebagai alternatif pendapatan pasif. Di sisi lain, pembelian mencicil atau averaging down dinilai dapat membantu menjaga ketahanan portofolio ketika pasar masih bergerak liar.

Otoritas bursa tengah mempercepat reformasi struktural, termasuk penyesuaian aturan batas free float dan transparansi emiten. Langkah itu diarahkan untuk mencegah potensi penarikan dana asing yang diprediksi bisa mencapai Rp 450 triliun bila penurunan status MSCI benar-benar terjadi.

Pelaku pasar kini menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dan pengumuman lanjutan MSCI pada Juni. Dua agenda itu dipandang akan menjadi penentu arah IHSG setelah tekanan global dan domestik mendorong indeks turun ke bawah level psikologis yang lebih rendah.

Terkait