IHSG kembali menembus level 6.100 setelah melonjak 4,24 persen sepanjang perdagangan 13-17 Juli 2026. Penguatan 251,17 poin itu membawa indeks ditutup di 6.175,535, dari posisi 5.924,360 pada penutupan pekan sebelumnya.
Reli ini terjadi saat pasar menerima tiga sinyal domestik yang dinilai memperkuat kepercayaan investor. Perubahan metodologi MSCI, peringkat kredit Indonesia yang tetap stabil, serta pertumbuhan investasi asing langsung menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Bank besar mendorong kenaikan indeks
Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi penopang terbesar penguatan IHSG dalam sepekan. BMRI memberikan kontribusi 32,66 poin, disusul BBCA dan BBRI yang masing-masing menyumbang lebih dari 26 poin.
Penguatan tidak hanya datang dari bank-bank besar. Saham komoditas AMMN turut melesat, sementara TLKM, BYAN, dan ASII juga mencatatkan kenaikan sepanjang pekan perdagangan.
| Saham | Kenaikan Sepekan | Kontribusi ke IHSG |
|---|---|---|
| BMRI | 9,8 persen | 32,66 poin |
| BBCA | 4,86 persen | 26,47 poin |
| BBRI | 6,45 persen | 26,27 poin |
| AMMN | 12,25 persen | 18,11 poin |
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga meningkat saat indeks menguat. Rata-rata nilai transaksi harian naik 36,25 persen menjadi Rp13,99 triliun, dengan volume harian bertambah 27,75 persen menjadi 26,17 miliar lembar saham.
Frekuensi transaksi harian naik 24,60 persen menjadi 2,33 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun meningkat 3,95 persen menjadi Rp10.749 triliun.
Perubahan MSCI membuka ruang baru
Salah satu sentimen yang disorot pasar adalah pelonggaran metodologi MSCI terkait penyaringan Extreme Price Increase atau EPI. Aturan yang berlaku pada tinjauan indeks Agustus 2026 itu membuka peluang saham tertentu tetap dipertimbangkan masuk indeks global.
Dalam ketentuan baru tersebut, saham kategori EPI dengan Foreign Inclusion Factor atau FIF minimal 0,75 dikecualikan dari penyaringan EPI, selama tetap memenuhi persyaratan inklusi lainnya. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menilai perubahan ini memberi ruang bagi saham yang melonjak tinggi tetapi memiliki likuiditas memadai.
Kebijakan ini mendapat perhatian karena MSCI sempat membekukan sementara seluruh perubahan indeks untuk pasar Indonesia pada awal 2026. Pembekuan itu berkaitan dengan sorotan terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran atas perilaku perdagangan terkoordinasi pada sejumlah saham.
Sebelumnya, pasar domestik juga menghadapi derasnya aksi jual investor asing. Imam Gunadi mencatat penjualan bersih asing secara year to date telah melampaui Rp90 triliun ketika IHSG sempat melemah sekitar 30 persen dari titik tertingginya pada Februari.
Peringkat kredit dan investasi asing ikut mendukung
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada BBB serta peringkat jangka pendek A-2, dengan prospek stabil. Keputusan ini dibaca pasar sebagai sinyal dukungan terhadap fundamental ekonomi nasional, terutama setelah dua lembaga pemeringkat lain sempat merevisi prospek Indonesia menjadi negatif pada Februari dan Maret 2026.
Kepercayaan investor asing juga terlihat dari realisasi investasi asing langsung pada kuartal II-2026. Nilainya mencapai Rp257,7 triliun, tumbuh 27,4 persen secara tahunan atau setara sekitar 14,32 miliar dollar AS.
| Katalis | Data Utama | Makna bagi Pasar |
|---|---|---|
| Metodologi MSCI | FIF minimal 0,75 dikecualikan dari penyaringan EPI | Peluang inklusi saham lebih terbuka |
| Peringkat S&P | BBB, prospek stabil | Mendukung keyakinan pada fundamental |
| Investasi asing langsung | Rp257,7 triliun, naik 27,4 persen | Menunjukkan minat investor asing |
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat total realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut setara 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Hong Kong menjadi investor asing terbesar dengan nilai investasi 7,6 miliar dollar AS, diikuti Tiongkok, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat. Meski sentimen domestik membaik, keputusan membeli saham tetap perlu mempertimbangkan riset mandiri dan risiko masing-masing investor.
Source: money.kompas.com






