IHSG kembali terseret tekanan jual tajam pada perdagangan Kamis pagi dan turun 2,40 persen ke level 6.167,36. Posisi itu membuat indeks acuan Bursa Efek Indonesia menyentuh titik terendah dalam 52 minggu terakhir.
Di awal sesi, IHSG sempat dibuka di 6.366,48 dan naik ke 6.378,81 sebelum berbalik arah. Tekanan jual kemudian makin kuat hingga indeks sempat jatuh ke level terendah harian 6.163,56 pada pukul 10.58 WIB.
Aksi jual mendominasi sejak pembukaan
Pergerakan ini menunjukkan pasar bergerak dalam mode defensif. Dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.318,50, koreksi yang terjadi memperlihatkan investor makin berhati-hati menghadapi volatilitas yang tinggi.
Pelemahan tersebut juga membuat jarak IHSG dengan level tertingginya dalam setahun terakhir makin lebar. Puncak yang sempat berada di 9.174,47 kini tampak jauh, menegaskan besarnya tekanan yang sedang dihadapi pasar saham domestik.
Tekanan global ikut membebani indeks
Analis menilai sentimen luar negeri masih menjadi faktor utama yang menekan bursa. Kekhawatiran suku bunga tinggi, arus keluar dana asing, dan pelemahan rupiah ikut mendorong aksi jual pada sejumlah saham unggulan.
Di saat yang sama, pasar juga menimbang ulang prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Kekhawatiran atas potensi perlambatan konsumsi masyarakat membuat pelaku pasar lebih selektif mengambil posisi.
Investor mulai memangkas risiko
Koreksi tajam seperti ini kerap memicu investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dalam situasi pasar yang tidak pasti, langkah itu sering dipilih untuk menjaga portofolio dari penurunan lanjutan.
Namun, tidak semua pelaku pasar memilih menjauh. Sebagian investor jangka panjang justru memanfaatkan pelemahan untuk akumulasi, terutama pada saham berfundamental kuat di sektor perbankan dan komoditas.
Pasar masih rapuh di tengah dua tekanan
Kombinasi tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik membuat pasar bergerak dalam kondisi rapuh. Selama sentimen global belum membaik, volatilitas di pasar saham diperkirakan masih akan tetap tinggi.
Pelemahan IHSG pada sesi pagi ini memperlihatkan bahwa investor belum menemukan pegangan yang cukup kuat untuk kembali masuk agresif. Dengan tekanan jual yang masih dominan, arah pasar dalam waktu dekat masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global dan respons pelaku pasar terhadap risiko yang ada.
Source: www.suara.com