IHSG kembali terpukul keras dan menutup perdagangan di level 5.342,14 setelah anjlok 4,52 persen. Tekanan jual yang muncul sejak awal sesi membuat portofolio investor kembali tergerus di tengah suasana pasar yang sudah rapuh.
Pelemahan ini memperdalam tren negatif bursa domestik yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Dalam periode itu, IHSG tercatat ambruk lebih dari 38 persen dan terus menjauh dari level psikologis yang selama ini dijadikan acuan pelaku pasar.
Tekanan di pasar saham kali ini datang dari kombinasi faktor yang saling menguatkan. Kekhawatiran atas stabilitas makroekonomi dalam negeri, pelemahan indikator keuangan utama, dan sentimen eksternal membuat investor asing maupun pelaku pasar lokal cenderung menarik dana dari saham Indonesia.
Rupiah ikut melemah
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari rupiah yang semakin sulit bertahan. Pada perdagangan hari Senin, nilai tukar rupiah melemah 0,84 persen ke posisi Rp18.187,5 per dolar AS dan tetap berada di atas Rp18.150 per dolar AS.
Bagi emiten yang bergantung pada bahan baku impor, kondisi ini menambah beban biaya. Pasar juga melihat rupiah yang bertahan di area tersebut sebagai risiko bagi profitabilitas korporasi domestik hingga akhir tahun.
Cadangan devisa menipis
Sentimen negatif bertambah setelah cadangan devisa Indonesia turun selama lima bulan berturut-turut. Per Mei 2026, cadangan devisa tercatat US$144,9 milar dan memunculkan kekhawatiran soal kemampuan bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar ke depan.
Penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan ikut menggerus kepercayaan pasar terhadap aset keuangan domestik. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung memperbesar kehati-hatian dan mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Asing lanjut jual saham
Tekanan makro itu mendorong arus keluar modal yang besar dari pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Investor asing membukukan net sell Rp588 miliar pada perdagangan Senin, dan tekanan jual itu berlanjut hingga hari ini.
Aksi jual asing membuat saham-saham berkapitalisasi besar semakin tertekan. Di tengah kondisi tersebut, pertanyaan soal penyebab saham Indonesia turun kembali menguat di kalangan investor ritel yang melihat harga saham unggulan terus melemah.
Dalam sepekan terakhir, penurunan IHSG juga sangat dalam. Indeks tercatat melemah 13,94 persen dalam lima hari terakhir, sementara dalam satu bulan terakhir koreksinya mencapai 25,63 persen.
Level yang dipantau pasar
Dengan penurunan setajam ini, perhatian pasar kini tertuju pada area support yang dipantau sejumlah sekuritas. BRI Danareksa Sekuritas melihat IHSG berpotensi bergerak di area support 5.200 dan resistance 5.600.
Phintraco Sekuritas menempatkan target support yang lebih rendah di 5.100. Jika level itu jebol, tekanan jual teknikal diperkirakan kembali meningkat dan memperberat sentimen pasar.
CGS International Sekuritas Indonesia juga melihat pergerakan IHSG cenderung melemah dengan rentang support 5.225-5.110 dan resistance 5.460-5.575. Rentang itu menunjukkan volatilitas pasar masih tinggi dan arah pergerakan indeks belum stabil.
Hingga penutupan perdagangan sore ini, otoritas bursa terus memantau pergerakan indeks dan aktivitas transaksi. Langkah itu dilakukan untuk memastikan pasar tetap berjalan teratur, wajar, dan efisien di tengah tekanan jual yang masih kuat.
