Idols of Ash tidak memilih cara biasa untuk menakut-nakuti pemain. Game horor orang pertama ini justru membawa pemain turun ke dalam lubang raksasa dengan grappling hook, lalu memaksa mereka bertahan saat ruang bawah tanahnya berubah jadi mimpi buruk.
Di balik tampilan low-poly yang sederhana, permainan ini lebih dekat ke platformer vertikal yang menuntut perhitungan jarak, refleks, dan keberanian mengambil risiko. Hasilnya adalah horor yang tidak hanya menekan lewat suasana, tetapi juga lewat ritme permainan yang terus mendorong pemain bergerak cepat.
Turun perlahan, lalu dipaksa panik
Pemain diajak mengendalikan protagonis tanpa nama di mulut jurang misterius yang tampak tak berdasar. Tujuan utamanya sederhana, yakni mencapai dasar lubang itu.
Pada fase awal, gerakan terasa seperti melompat dari satu platform ke platform lain, dengan nuansa muram yang mengingatkan pada perjalanan menuruni ruang-ruang vertikal di game bergaya Dark Souls. Namun suasana tenang itu hanya berlangsung sebentar sebelum permainan berubah jauh lebih mengganggu.
Grappling hook jadi pusat tekanan
Alat utama dalam Idols of Ash adalah grappling hook. Dengan alat ini, pemain bisa menempel ke tempatnya berdiri agar turun aman sejauh panjang tali, lalu melepaskan diri untuk menangkap permukaan lain saat jatuh.
Grappling hook juga bisa dipakai untuk mengayun dan membangun momentum sebelum melompat ke platform yang jauh. Mekanik ini membuat permainan lebih menuntut pembacaan ruang dan kecepatan bereaksi ketimbang sekadar berjalan hati-hati di lorong gelap.
Ancaman kelabang raksasa mengubah semuanya
Rasa aman itu runtuh ketika kelabang raksasa muncul dari kegelapan. Makhluk ini bisa membunuh pemain seketika dengan rahang besar seperti batang pohon.
Ancaman tersebut mengubah ritme permainan dari eksplorasi lambat menjadi perlombaan hidup dan mati. Kelabang itu tidak bergerak jauh lebih cepat dari pemain pada tingkat kesulitan normal, tetapi kehadirannya membuat setiap langkah terasa mendesak.
Keberanian, jarak, dan keputusan cepat
Semakin dalam pemain turun, semakin kecil ruang untuk bermain aman. Setiap lompatan, ayunan, dan pelepasan grappling hook menuntut keputusan cepat yang bisa menentukan hidup atau mati.
Pemahaman terhadap bentuk permukaan yang bisa dipanjat dan jumlah slack tali yang tepat juga menjadi penting. Dalam beberapa momen, pemain nyaris tidak punya pilihan selain berharap keputusan berikutnya cukup akurat untuk bertahan.
Singkat, padat, dan lebih brutal di mode Nightmare
Idols of Ash bisa ditamatkan dalam sekitar dua jam, meski ada pemain di forum Steam yang mengaku menyelesaikannya hanya dalam 20 menit. Setelah game utama selesai, mode Nightmare terbuka dengan checkpoint dihapus dan kelabang bergerak lebih cepat.
Ada pula sandbox mode yang membuka kesempatan menjelajah tanpa kelabang. Mode ini memungkinkan pemain mengubah beberapa parameter, termasuk panjang tali, damage jatuh, dan opsi lain untuk bereksperimen dengan tantangan yang berbeda.
Atmosfer suram dengan cerita yang sengaja kabur
Di luar mekaniknya yang menegangkan, game ini juga menyimpan cerita yang samar dan sulit dibaca. Klimaksnya tetap disebut kuat, meski penjelasan naratif dibiarkan sengaja kabur hampir sepanjang permainan.
Idols of Ash meninggalkan kesan seperti mimpi demam yang menyesakkan, tetapi justru itu yang membuatnya menonjol. Game ini tersedia di Steam dan Itch, dan memadukan tekanan ekstrem dengan rasa ingin terus turun lebih dalam lagi.






