Di tengah serangan Rusia yang kembali menewaskan warga sipil di Kyiv, satu keluarga Ukraina harus menghadapi kehilangan paling brutal. Tetiana Yakovlieva baru saja menguburkan dua putrinya, Vira yang berusia 12 tahun dan Liubava yang berusia 17 tahun, setelah keduanya tewas dalam serangan dini hari yang menghantam ibu kota.
Kisah keluarga ini memperlihatkan sisi perang yang paling memukul warga biasa. Di saat reruntuhan rumah mereka masih ditutupi debu beton, Yakovlieva sempat berharap putrinya masih hidup di bawah puing-puing, atau setidaknya telah meninggal dan menyusul ayah mereka yang lebih dulu gugur saat berperang melawan invasi Rusia tiga tahun lalu.
Duka di gereja dan sirene yang masih berbunyi
Lima hari setelah serangan, Yakovlieva berdiri di bawah kubah emas Gereja Santo Mikael di Kyiv. Ia terlihat pucat dan bergoyang pelan di depan dua peti jenazah tertutup saat misa pemakaman berlangsung.
Suasana di dalam gereja dipenuhi doa, tangis, bunga, dan pelukan diam. Namun sirene serangan udara sempat kembali terdengar ketika upacara pemakaman Vira dan Liubava masih berjalan.
Imam yang memimpin misa mengatakan tidak ada kata-kata penghiburan yang cukup untuk meringankan beban orang tua yang harus menguburkan anak muda. Ia juga menyebut tragedi itu bukan hanya duka keluarga Yakovlieva, melainkan duka seluruh Ukraina.
Serangan paling mematikan di Kyiv tahun ini
Vira dan Liubava termasuk di antara dua lusin orang yang tewas dalam serangan dini hari pada Kamis. Serangan itu disebut sebagai yang paling mematikan di Kyiv sepanjang tahun ini, ketika Rusia mengerahkan 675 drone tempur dan 56 rudal.
Menteri Dalam Negeri Igor Klymenko mengatakan kemungkinan besar sebuah rudal jelajah Kh-101 Rusia meledak di lantai dasar rumah keluarga itu. Ledakan tersebut diduga meruntuhkan fondasi bangunan hingga satu lantai jatuh menimpa lantai lainnya.
Di lokasi serangan, jurnalis AFP melihat petugas darurat mengangkat korban tewas dan luka-luka dengan tandu. Warga, termasuk teman sekelas kedua saudari itu, juga mencoba mengenali siapa yang menjadi korban di antara puing-puing.
Menurut analis pertahanan Ukraina, setiap proyektil semacam itu bernilai sekitar 1,2 juta dolar AS. Nilai itu menambah gambaran betapa besar daya hancur serangan yang justru menimpa area tempat keluarga sipil tinggal.
Potret kehilangan yang dirasakan banyak warga
Di pemakaman, seorang perempuan bernama Natalia mengatakan sulit menemukan kata-kata ketika anak-anak terbunuh, apalagi saat mereka sedang tidur. Ia menyebut serangan itu sebagai kebiadaban, dan mengatakan putranya juga tewas bersama ayah kedua gadis itu.
Pelayat lain, Olga, mengenang bahwa ia pernah mengajari putri bungsu Yakovlieva menggambar. Ia menggambarkan Vira dan Liubava sebagai anak-anak yang berbakat, supel, dan meninggalkan “rasa sakit yang tak terucap”.
Kisah dua saudari itu memperlihatkan bahwa perang tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus kehidupan keluarga dalam sekejap. Di gereja, duka pribadi keluarga Yakovlieva berubah menjadi kesedihan yang dirasakan banyak orang yang datang memberi penghormatan terakhir.
Kecaman Kyiv dan bantahan Moskow
Usai serangan, Presiden Volodymyr Zelensky menulis bahwa Rusia “dengan sengaja menghancurkan kehidupan”. Ia meminta sekutu meningkatkan tekanan terhadap Moskow agar perang segera diakhiri.
Zelensky juga mengatakan Ukraina sedang membela Eropa dan dunia agar serangan seperti ini, yang menewaskan anak-anak, tidak meluas lebih jauh. Sementara itu, Kremlin menyatakan pasukannya menyerang fasilitas militer Ukraina, tetapi tetap membantah bahwa tentaranya menargetkan warga sipil.
Di tengah pernyataan yang saling bertolak belakang itu, angka korban sipil terus bertambah. Polisi menyebut sedikitnya 704 anak Ukraina telah terbunuh sejak invasi penuh Rusia dimulai pada Februari 2022, sementara ribuan lainnya terluka atau hilang.
Nama Vira dan Liubava kini menambah daftar panjang itu. Bahkan arti nama mereka, yang berarti “iman” dan “cinta”, ikut terasa ironis di tengah rumah yang hancur dan perang yang terus membawa luka baru bagi warga sipil Kyiv.
