Hyperliquid Melaju Kencang, Tapi Reli Ini Bertumpu Pada Risiko Yang Tipis

Hyperliquid sedang menjadi salah satu nama paling mencolok di pasar kripto, tetapi justru lonjakan cepatnya memunculkan pertanyaan besar soal daya tahan. Token native DEX ini melesat dari harga awal $3,20 per token saat diluncurkan pada Nov. 29, 2024 menjadi sekitar $41, dan kenaikan setajam itu membuat banyak investor melihatnya sebagai aset dengan risiko yang sama cepatnya dengan kenaikannya.

Yang membuat cerita ini penting bukan hanya besar reli-nya, melainkan sumber tenaganya. Kenaikan Hyperliquid dibangun di atas aktivitas perdagangan derivatif, pasokan yang ketat, dan minat awal yang kuat, sementara ketergantungannya pada satu platform dan satu jenis produk membuat banyak pihak menilai keyakinan pada aset ini masih tipis.

Permintaan awal yang mendorong harga

Sebelum tokennya resmi meluncur, Hyperliquid sudah lebih dulu dipakai untuk memperdagangkan kontrak futures perpetual atau perps di DEX miliknya. Aktivitas itu memberi dasar penggunaan yang nyata, sehingga lonjakan harga tidak sepenuhnya lahir dari spekulasi kosong.

Saat token dibagikan lewat airdrop kepada trader di DEX tersebut, respons pasar ikut membentuk arah awalnya. Sebagian penerima langsung menjual untuk mengunci untung, tetapi lebih banyak yang memilih bertahan, sehingga permintaan awal melampaui pasokan dan harga terdorong naik.

Kondisi itu juga menarik lebih banyak trader kripto ke platform tersebut. Di saat yang sama, reputasi Hyperliquid sebagai alternatif yang lebih cepat dan lebih rendah latensi dibanding DEX lain seperti dYdX ikut memperkuat minat pasar.

Bukan sekadar aset euforia

Hyperliquid menonjol karena tidak hanya bertumpu pada narasi populer. Token ini didukung utilitas nyata, low float, dan struktur pasar DEX yang digerakkan derivatif, sehingga lebih sulit disamakan dengan altcoin lain yang nilainya sulit diukur dari kegunaannya.

Data pasokannya juga memperlihatkan betapa ketat struktur token ini. Pasokan beredar Hyperliquid hanya 255 juta token dari total 955 juta token, dan kombinasi itu membuat aset ini tampak lebih serius daripada banyak token spekulatif lain di pasar kripto.

Namun, justru struktur yang sama juga menyimpan kerentanan. Kenaikannya sangat dipengaruhi oleh pasokan yang ketat, bukan oleh katalis jangka panjang yang benar-benar stabil.

Risiko bergantung pada satu mesin pertumbuhan

Ada tiga alasan utama mengapa Hyperliquid dipandang terlalu berisiko. Pertama, DEX Hyperliquid adalah blockchain Layer 1 baru yang belum diuji dalam kripto winter yang sesungguhnya.

Kedua, reli selama sekitar satu setengah tahun terakhir terutama ditopang oleh supply yang ketat. Ketiga, masa depan token ini sangat bergantung pada satu platform perdagangan dan satu kategori produk, yaitu perp trading.

Artinya, jika volume perdagangan di DEX turun, token ini ikut tertekan. Penurunan semacam itu bisa dipicu kompetisi dari platform lain atau tekanan makro yang melemahkan aktivitas pasar.

Lebih rentan dari aset kripto besar

Profil risiko itu membuat Hyperliquid lebih rentan dibanding Bitcoin dan Ethereum. Bitcoin sudah lebih luas diadopsi sebagai komoditas digital netral, sedangkan Ethereum dipakai di berbagai ekosistem.

Di sisi lain, Hyperliquid masih bisa terlihat lebih menarik daripada meme coin yang murni spekulatif. Meski begitu, aset ini tetap tergolong high beta dan low conviction, sehingga berpotensi menjadi jebakan bagi investor yang terlalu agresif mengejar kenaikan cepat.

Baca Juga

Back to top button