Hujan Hitam Turun di Iran, Serangan Udara Ini Tinggalkan Racun yang Tak Cepat Hilang

Serangan udara di Iran tidak hanya merusak fasilitas minyak dan menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memicu ancaman lingkungan yang jauh lebih luas. Serangan yang menargetkan sekitar 30 depot minyak di berbagai wilayah, termasuk Teheran, menyebabkan kebakaran berhari-hari, asap hitam pekat, dan laporan hujan hitam di area terdampak.

Kondisi itu langsung memunculkan kekhawatiran soal kesehatan warga dan kualitas udara. WHO sempat mengeluarkan peringatan atas dampak buruk serangan tersebut, sementara warga melaporkan mata perih dan sakit tenggorokan setelah menghirup udara yang tercemar.

Asap kebakaran minyak membawa polutan berbahaya

Saat depot atau kilang minyak terbakar, asap yang muncul tidak hanya terdiri dari jelaga. Proses pembakaran juga melepaskan hidrokarbon aromatik polisiklik, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.

Zat-zat itu dapat bercampur dengan uap air di atmosfer dan turun kembali bersama hujan. Jika proses ini terjadi, pH air hujan bisa menurun dan memicu hujan asam yang berisiko mengganggu tanah, tumbuhan, serta badan air di sekitarnya.

U.S. Environmental Protection Agency atau EPA menjelaskan bahwa hujan asam dapat berdampak negatif pada kehidupan tumbuhan dan hewan. Ketika pH tanah dan air berubah, ekosistem alami menjadi lebih sulit mendukung pertumbuhan tanaman dan biota air.

Ancaman air bersih makin besar

Masalah lingkungan tidak berhenti pada udara. Saat tumpahan minyak masuk ke sistem drainase air hujan di Teheran, polutan berpotensi menyebar ke tanah dan badan air alami di sekitarnya.

Laporan pencemaran air di sekitar Teheran juga memunculkan peringatan soal senyawa yang berpotensi karsinogenik. Dalam kondisi Iran yang sudah menghadapi tekanan air tinggi dan kekeringan, serangan udara justru memperburuk kesulitan akses air bersih.

Para ahli menilai kerusakan kualitas air ini bukan dampak sesaat. Beban lingkungan menjadi makin berat, sementara proses pemulihan akan lebih sulit dilakukan setelah kebakaran padam.

Karbon hitam bisa terbawa jauh

Selain mengotori udara lokal, kebakaran minyak juga menghasilkan karbon hitam yang masuk ke atmosfer. Partikel ini dikenal dapat mempercepat perubahan iklim karena menyerap panas dan ikut mendorong kenaikan suhu.

Dalam peristiwa kebakaran minyak berskala besar, jelaga bisa terbawa angin ke wilayah yang sangat jauh. Model pergerakan asap dari serangan di Iran bahkan menunjukkan sebagian jelaga dapat mencapai Siberia, wilayah yang memiliki banyak gletser.

Dampaknya serupa dengan kebakaran minyak pada Perang Teluk, ketika karbon hitam menempel di permukaan es dan mengurangi daya pantul sinar Matahari. Akibatnya, es lebih cepat menyerap panas dan suhu meningkat.

Risiko kesehatan menimpa kelompok rentan

Paparan asap dari kebakaran minyak tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan manusia. Karbon hitam dan partikel halus dapat memicu gangguan pernapasan, masalah kardiovaskular, risiko kanker paru-paru, hingga kerusakan sistemik termasuk gangguan neurologis.

CCAC menyebut dampak itu bisa jauh lebih berat bagi anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan. Dalam situasi perang, akses masker dan perlindungan di dalam ruangan juga tidak selalu tersedia, sehingga risiko paparan menjadi lebih tinggi.

Keterbatasan pemantauan membuat skala dampak lingkungan sulit dinilai secara utuh. Pembatasan internet, kendala satelit, dan banyaknya insiden membuat api, asap, serta polutan terus bergerak mengikuti aliran udara dan air di sekitar wilayah terdampak.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button