Di tengah tren game yang terus mengejar layar loading yang makin singkat atau nyaris tak terlihat, salah satu mantan kreator Dishonored justru membela jeda klasik yang sering dianggap usang. Harvey Smith menilai layar loading masih punya fungsi yang lebih besar daripada sekadar penghalang teknis.
Pernyataan itu muncul saat Raphaël Colantonio menyiarkan ulang Dishonored bersama beberapa anggota tim Arkane yang dulu mengerjakan level yang sedang ia mainkan. Obrolan mereka membuka kembali sejumlah cerita lama, termasuk masa ketika Arkane sempat ditunjuk untuk mengerjakan Thief 4 dan Blade Runner sebelum akhirnya mendapat Dishonored.
Loading Screen yang Dibela, Bukan Sekadar Dihapus
Momen paling menarik terjadi saat Colantonio memainkan level Lady Boyle’s Last Party bersama Harvey Smith, Stevan Hird, dan Anthony Huso. Saat membahas banyaknya loading di antara jalanan luar mansion, area luar mansion, dan foyer, Smith justru menolak anggapan bahwa menghapus loading screen otomatis lebih baik.
“Orang-orang menganggap menghapus loading screen itu sebuah peningkatan,” kata Smith. “Tapi jujur, saya pikir jeda antara satu area dan area berikutnya, saat terasa seperti, ‘Oke, itu sudah di belakang, saya berada di area baru yang masih bersih,’ lalu ada tips yang jadi bagian dari world-building, seni, dan catatan kecil dalam dunia game, saya sebenarnya punya kelemahan khusus untuk semua itu.” Colantonio kemudian menguatkan pandangan itu dengan mengatakan bahwa ada sesuatu di sana yang memang terasa benar.
Bagi Smith, layar loading bukan hanya momen tunggu. Jeda itu bisa memberi rasa pergantian ruang, menghadirkan tips, serta memperkuat world-building dan presentasi visual yang menyatu dengan atmosfer game.
Obrolan Lama, Ide Lama, dan Detail yang Kembali Muncul
Sesi yang sama juga memperlihatkan Colantonio tidak bermain terlalu tenang. Ia beberapa kali meminta maaf karena sudah lama tidak menyentuh game itu, bahkan sejak sebelum rilis 14 tahun lalu, sambil berbicara dan memakai controller, yang membuat sesi dipenuhi chaos dan beberapa exit mendadak.
Di luar soal loading, Smith juga menyinggung ide lama untuk Dishonored yang sempat dipertimbangkan. Dalam gagasan itu, Daud memotong tangan Corvo yang memberinya Blink, lalu tangan tersebut harus diambil kembali.
Smith mengatakan ia menyukai ide tentang tangan bertanda Outsider itu, entah pemain harus memainkannya dulu untuk mendapatkannya kembali ke Corvo atau harus pergi mencarinya. Ia lalu menjelaskan bahwa ide tersebut pada akhirnya digunakan lagi dalam bentuk lain ketika sebuah karakter di Dishonored 2 memperoleh kekuatan melalui tangan mumi bertanda Outsider.
Setelah menyelesaikan bagian Lady Boyle’s Last Party, Colantonio dan timnya masih memiliki empat level lagi untuk dimainkan. Ada pula kemungkinan mereka melanjutkan ke ekspansi Knife of Dunwall dan Brigmore Witches, yang disebut sebagai bagian favorit dari seluruh seri Dishonored.
Obrolan itu memperlihatkan bagaimana Arkane masih memandang detail presentasi dan desain level sebagai sesuatu yang penting. Bagi Smith, layar loading bukan sekadar sisa dari desain lama, melainkan bagian dari ritme, atmosfer, dan cara dunia game terasa utuh.
