Harga mobil BYD di Indonesia masih bertahan tanpa perubahan berarti hingga pertengahan 2026. Di tengah pasar mobil listrik yang makin ramai, langkah ini menunjukkan BYD lebih memilih menjaga posisi ketimbang ikut adu cepat menaikkan banderol.
Yang menarik, penyesuaian yang muncul sejauh ini bukan berasal dari kenaikan harga reguler. Perubahan hanya terjadi karena hadirnya varian baru pada beberapa model, sementara lini lain tetap berada di angka yang sama.
Harga Banyak Model Masih Ditahan
BYD disebut masih memegang pangsa pasar terbesar untuk kategori BEV di Indonesia. Keunggulan itu datang dari lini produk listrik murni yang lengkap dan terus bertambah, meski para pesaing dari merek Tiongkok lain juga semakin agresif.
Sepanjang semester pertama 2026, tidak ada satu pun model BYD yang naik harga. Pengecualian hanya terkait Atto 1, Atto 3, dan M6 karena masing-masing mendapat varian baru.
| Model | Keterangan Harga | Catatan |
|---|---|---|
| Atto 1 | Rp 199 juta | Varian STD menjadi yang termurah |
| Atto 3 | Varian Advanced Plus | Dirilis Februari lalu |
| M6 | Varian M6 DM | Varian PHEV hadir sejak bulan lalu |
| Seal | Rp 750 juta | Varian tertinggi menjadi yang termahal |
Atto 1 Paling Murah, Seal Tetap Paling Mahal
Dari lima mobil penumpang yang dijual, Atto 1 menjadi model paling terjangkau dengan harga Rp 199 juta atau dibulatkan Rp 200 juta. Untuk hatchback mungil, angka itu membuatnya tetap terlihat kompetitif di tengah pasar yang makin padat.
Di sisi lain, Seal varian tertinggi masih memegang status sebagai model termahal dalam jajaran BYD Indonesia. Sementara itu, M6 EV, Sealion 7, Dolphin, dan Seal disebut terakhir kali berubah harga sekitar tahun lalu.
Varian Baru Dipakai Untuk Menjaga Daya Tarik
Penyesuaian pada Atto 1, Atto 3, dan M6 lebih berkaitan dengan tambahan varian ketimbang revisi harga menyeluruh. Atto 3 kini punya trim Advanced Plus, sedangkan M6 mendapat versi PHEV bernama M6 DM.
M6 DM menjadi opsi bagi konsumen yang mencari MPV PHEV dengan harga terjangkau. Selama ini, lini BYD di Indonesia lebih banyak diisi model BEV, sehingga kehadiran varian baru memperluas pilihan tanpa mengubah struktur harga yang sudah ada.
Persaingan BEV Semakin Ketat
Walau masih memimpin pasar BEV di Indonesia, BYD tidak sedang berada di posisi yang nyaman. Geely, Chery, dan Changan Automobile disebut terus menambah model listrik di pasar yang sama.
Dalam kondisi itu, mempertahankan harga bisa menjadi salah satu cara menjaga daya saing. Di saat yang sama, BYD juga mulai memproduksi mobil secara lokal, dengan M6 dan Atto 1 diprioritaskan, sementara Sealion 7 dan Atto 3 menyusul.
Masih belum jelas kapan model seperti Seal dan Dolphin ikut dirakit lokal karena hasil penjualannya belum semaksimal model lain. Pasar BEV tetap ramai dengan banyak model baru yang masuk, meski insentif BEV belum dimulai sampai sekarang.
Belum ada kepastian kapan insentif itu akan berlaku. Namun bagi pasar yang terus bergerak, keputusan mempertahankan banderol menunjukkan BYD masih memilih bermain aman sambil menunggu situasi yang lebih menguntungkan.







