Kenaikan harga BBM kembali membuat kendaraan listrik terlihat lebih masuk akal sebagai pilihan mobilitas harian. Di tengah tekanan biaya energi, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menilai momentum untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik sedang terbuka lebar.
Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi, menyebut dorongan itu sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mempercepat transisi kendaraan listrik. Menurut dia, penguatan ekosistem kendaraan listrik perlu bertumpu pada kebijakan yang konsisten dan mudah diprediksi agar adopsinya tidak tersendat.
Dukungan publik sudah tinggi
AISMOLI melihat percepatan transisi bukan hanya soal kebutuhan industri, tetapi juga soal penerimaan publik yang sudah kuat. Survei Dampak Penggunaan Kendaraan Listrik dari Litbang Kompas pada April 2026 menunjukkan 98 persen responden mendukung penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
Masih dari survei yang sama, 94,8 persen responden setuju pemerintah perlu aktif mendorong percepatan transisi tersebut. Tingkat pengenalan publik terhadap kendaraan listrik juga disebut sudah mencapai rata-rata 8,04 dari 10, yang menandakan penerimaan sosial makin matang.
Minat beralih muncul dari manfaat yang dirasakan
Budi menjelaskan bahwa dorongan transisi semakin kuat karena ada minat nyata dari calon pengguna. Di antara responden yang belum memiliki kendaraan listrik, 81,1 persen menyatakan bersedia beralih jika perpindahan itu benar-benar meningkatkan kualitas hidup dari sisi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Di kelompok pengguna kendaraan listrik, 96,8 persen menyatakan bersedia merekomendasikannya kepada orang lain. AISMOLI menilai hal itu lahir dari manfaat langsung yang dirasakan, bukan sekadar dari promosi merek.
Manfaat yang dimaksud mencakup biaya operasional yang lebih rendah, perawatan yang lebih mudah, serta beban pajak yang lebih ringan. Karena itu, asosiasi ini menilai pengalaman penggunaan sehari-hari sangat penting untuk mempercepat adopsi di masyarakat.
Biaya operasional motor listrik jauh lebih efisien
Data ITDP yang dipaparkan dalam AISMOLI Annual Meeting 2026 menunjukkan biaya operasional motor listrik bisa 74–83 persen lebih murah dibanding motor bukan listrik. Angka ini menjadi salah satu alasan utama AISMOLI terus mendorong perluasan kendaraan listrik di tengah kenaikan harga BBM.
Namun, persepsi publik terhadap penghematan itu dinilai belum terbentuk sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah masih banyak masyarakat yang belum punya pengalaman langsung menggunakan kendaraan listrik untuk aktivitas harian.
Karena itu, AISMOLI menempatkan edukasi dan perluasan akses sebagai agenda yang harus berjalan bersama dengan upaya membuat harga kendaraan listrik lebih terjangkau. Cara ini dinilai penting agar manfaat ekonomi kendaraan listrik lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Peluang bagi kebijakan energi dan transportasi
AISMOLI melihat situasi saat ini sebagai peluang strategis bagi pemerintah untuk mempercepat perubahan di sektor transportasi. Budi mengatakan kebijakan transisi kendaraan listrik seharusnya diposisikan sebagai kesempatan untuk memimpin perubahan, bukan sebagai beban tambahan.
Ia juga menyoroti dampak jangka panjang terhadap pengeluaran energi nasional, termasuk potensi pengurangan subsidi BBM yang selama ini menjadi beban besar. Dengan dukungan publik yang tinggi, pengenalan yang makin luas, dan manfaat ekonomi yang mulai terlihat, transisi kendaraan listrik dinilai sudah masuk fase yang membutuhkan langkah kebijakan lebih tegas.
Di tengah fluktuasi harga BBM, dorongan itu dianggap semakin relevan untuk mempercepat pergeseran menuju transportasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Source: www.viva.co.id






