Gunung Lawu bukan hanya dikenal sebagai salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa, tetapi juga sebagai kawasan yang menyimpan lapisan sejarah, budaya, dan kepercayaan yang kuat. Di tengah kabar yang sempat mengaitkan namanya dengan erupsi di media sosial, fakta dasar tentang gunung ini justru penting untuk dipahami agar tidak mudah terseret informasi yang belum jelas sumbernya.
Lawu berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan ketinggian 3.256 meter di atas permukaan laut. Statusnya masih aktif, meski sudah lama berada dalam fase istirahat dan tidak mengalami erupsi magmatik setelah tahun 1600-an.
Masih aktif, meski terlihat tenang
Gunung Lawu tetap perlu dipahami sebagai gunung api yang belum padam sepenuhnya. Gunung ini masih menunjukkan gejala vulkanik seperti solfatara yang mengeluarkan gas belerang, dan catatan erupsi terakhirnya tercatat pada 28 November 1885.
Dalam klasifikasi gunung api tipe B, Lawu masih memiliki potensi untuk kembali erupsi. Karena itu, status tenangnya tidak berarti aman untuk dianggap sudah tidak aktif sama sekali.
Tiga puncak yang jadi ciri khas
Lawu memiliki tiga puncak utama, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Puncak tertinggi berada di Hargo Dumilah, yang ditandai dengan tugu triangulasi dan sering menjadi titik favorit para pendaki untuk berfoto.
Struktur puncak seperti ini membuat Lawu punya karakter yang berbeda dari banyak gunung lain di Jawa. Banyak pendaki datang bukan hanya untuk mengejar ketinggian, tetapi juga untuk merasakan suasana khas di area puncaknya.
Jejak sejarah di kaki gunung
Di kawasan kaki Gunung Lawu terdapat dua kompleks candi yang memperkuat hubungan gunung ini dengan sejarah Jawa. Keduanya adalah Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, serta Candi Cetho di Dusun Ceto, Desa Gubeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Kedua candi itu diyakini dibangun pada masa akhir Majapahit dan memiliki bentuk teras berundak. Candi Cetho juga dikenal sebagai salah satu jalur pendakian menuju Lawu, sehingga unsur sejarah dan aktivitas pendakian bertemu dalam satu kawasan.
Warung tertinggi yang melegenda
Nama Gunung Lawu juga lekat dengan Warung Mbok Yem, yang dikenal sebagai warung tertinggi di Indonesia. Warung ini berdiri sejak tahun 1980-an dan menjadi tempat singgah banyak pendaki yang ingin beristirahat setelah perjalanan panjang.
Di warung itu tersedia teh, kopi, nasi pecel, mi instan, hingga aneka gorengan. Sosok Mbok Yem juga dikenang para pendaki karena kerap memberi semangat, meski ia telah meninggal dunia pada 23 April 2025.
Ruang sakral dan cerita yang bertahan
Selain sejarah dan pendakian, Lawu juga lekat dengan ruang-ruang sakral. Di puncaknya terdapat Gua Inten dan Gua Slarong, sementara sejumlah lokasi lain yang sering disebut adalah Jolotundo, Khayangan, Hargo Tiling, Hargo Purso, Sendang Macan, Sambernyowo, Sendang Celeng, Lumbung Selayur, Gupak Menjangan, Sendang Drajat, dan Sabdo Palon.
Tradisi Suro masih dikaitkan dengan kawasan ini, terutama pada malam 1 Suro atau 1 Muharram ketika sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual tertentu di kawasan puncak Gunung Lawu. Di sisi lain, cerita tentang gunung angker dan pasar setan setiap malam Jumat ikut memperkuat reputasinya di mata masyarakat.
Source: www.beautynesia.id






