Gugatan Dean James Mengguncang Eredivisie, 133 Laga Belanda Terancam Diulang

Gugatan NAC Breda atas status Dean James kini berkembang menjadi ancaman besar bagi Eredivisie. Satu sengketa administratif itu berpotensi menyeret 133 laga musim ini dan mengacaukan jalannya kompetisi Liga Belanda.

Pusat persoalan ini bermula dari laga melawan Go Ahead Eagles pada 15 Maret 2026. Setelah pertandingan itu, NAC Breda mempersoalkan validitas status Dean James yang sejak Maret 2025 menjadi Warga Negara Indonesia dan kini dianggap masuk kategori pemain Non-Uni Eropa.

Sidang yang ditunggu KNVB

Kasus yang dikenal sebagai paspoortgate ini sudah bergulir ke pengadilan di Utrecht. KNVB dan otoritas liga menunggu sidang pada Senin, 4/5/2026, karena putusannya dinilai bisa menentukan arah sisa musim.

Direktur KNVB, Marianne van Leeuwen, menilai kemenangan NAC Breda dapat memicu gelombang gugatan baru dari klub lain. Ia menyebut situasi itu bisa berubah menjadi kekacauan karena sejumlah tim lain juga disebut memiliki klaim serupa.

Van Leeuwen juga memperingatkan bahwa satu putusan saja bisa memicu efek domino. Jika klub-klub lain ikut mengajukan protes, jadwal pertandingan dapat dirombak besar-besaran dan sisa musim berisiko tidak selesai.

Aturan gaji jadi inti sengketa

Masalah Dean James tidak hanya berkaitan dengan status kewarganegaraan, tetapi juga aturan gaji pemain asing di Belanda. Berdasarkan data yang dilansir Bola, pemain dalam kategori Non-Uni Eropa wajib menerima gaji minimal 600 ribu euro.

Upah James di Go Ahead Eagles disebut masih berada di bawah batas itu. Kondisi tersebut membuat status administratifnya dipersoalkan dan menjadi dasar protes NAC Breda.

James sendiri mengaku terkejut saat manajemen klub memanggilnya untuk membahas masalah itu. Ia mengatakan Direktur klub Jan Willem van Dop datang dari gym untuk menyampaikan bahwa NAC ingin mengajukan protes.

Dampak tidak berhenti pada satu nama

Laporan ESPN menyebut sekitar 25 pemain lain di berbagai klub juga terdampak oleh ketidakjelasan aturan serupa. Situasi ini membuat polemik Dean James berubah dari kasus individual menjadi persoalan yang jauh lebih luas.

Nama-nama seperti Justin Hubner dari Fortuna Sittard, Nathan Tjoe-A-On dari Willem II, dan Tim Geypens di FC Emmen ikut terseret dalam masalah administrasi tersebut. Mereka berada dalam posisi yang sama karena status kewarganegaraan dan izin kerja di Belanda.

Justin Hubner menegaskan bahwa para pemain hanya ingin fokus bermain dan tidak mendalami urusan birokrasi antarnegara. Ia menyampaikan bahwa perhatian utama mereka adalah membela negara dan klub di lapangan.

Klub menilai sosialisasi masih lemah

Di sisi lain, klub-klub merasa tidak mendapat panduan yang jelas soal perubahan aturan pemain asing yang dinaturalisasi. Manajer Umum NEC Nijmegen, Wilco van Schaik, mengkritik minimnya edukasi dari pemerintah maupun federasi.

Van Schaik mengatakan tidak ada lembaga pemerintah yang memberi penjelasan dalam dua tahun terakhir. Ia juga menyebut KNVB dan Eredivisie tidak mengirim surat resmi yang menjelaskan kewajiban gaji minimal tersebut kepada klub.

Menurutnya, klub sebenarnya ingin patuh. Namun tanpa panduan yang jelas, banyak tim merasa berjalan dalam ketidakpastian saat menyusun kontrak dan status pemain.

Solusi sementara belum menutup polemik

Di tengah situasi ini, beberapa pemain mulai mencari jalan sementara agar tidak terjebak masalah administratif lebih jauh. Tjaronn Chery disebut sudah memperoleh cap khusus pada paspornya sebagai solusi sementara.

Meski begitu, masalah belum selesai bagi semua pemain. Kiper Etienne Vaessen masih mencari jalan tengah agar bisa tetap berkarier di Eropa tanpa kehilangan status kewarganegaraan asalnya.

Dengan sidang yang segera digelar, perhatian kini tertuju pada Utrecht dan dampaknya bagi liga. Jika gugatan NAC Breda dikabulkan, Eredivisie tidak hanya menghadapi sengketa hukum, tetapi juga ancaman nyata terhadap kelanjutan 133 pertandingan musim ini.

Exit mobile version