Manchester City kembali kehilangan poin penting di persaingan gelar Premier League setelah ditahan imbang Everton 3-3. Hasil itu membuat Pep Guardiola menyoroti penurunan performa timnya, terutama karena City tampil kuat pada babak pertama tetapi tidak mampu menjaga level permainan setelah jeda.
Guardiola menilai laga berubah saat Everton meningkatkan intensitas dan bermain lebih agresif di paruh kedua. Ia juga mengakui tim asuhan David Moyes tampil lebih efektif dalam memanfaatkan bola mati, umpan panjang, dan situasi transisi yang berulang kali membuat lini belakang City kerepotan.
City dominan di awal, lalu kehilangan kendali
City sempat menunjukkan permainan yang meyakinkan pada awal pertandingan. Namun, menurut Guardiola, ritme permainan mereka turun setelah turun minum dan Everton mulai mengambil alih momentum dengan pendekatan yang lebih langsung.
“ Kami bermain bagus di babak pertama dan luar biasa, kemudian di babak kedua mereka meningkatkan permainan,” ujar Guardiola. Ia menambahkan bahwa City tetap berupaya memainkan alur yang rapi, tetapi tidak mempertahankan dorongan yang sama seperti pada 45 menit pertama.
Everton manfaatkan bola mati dan transisi
Salah satu hal yang paling disesali Guardiola adalah cara City menghadapi bola mati. Everton mampu memaksimalkan tendangan sudut dan membuat City berada dalam tekanan berulang lewat skema yang mereka jalankan dengan disiplin.
Guardiola menyebut Everton memang selalu berbahaya dalam situasi bola mati. Menurut dia, ancaman itu memberi ruang bagi tim tamu untuk membangun serangan lebih efektif dan menciptakan masalah di area pertahanan City.
Selain itu, Guardiola juga menyoroti umpan-umpan panjang Everton yang sulit diantisipasi. Skema tersebut membuat pertandingan berjalan lebih terbuka dan memberi Everton peluang menyerang cepat ketika laga memasuki fase transisi.
“Dengan umpan-umpan panjang mereka lebih baik, mereka memenangkan tendangan bebas dan lemparan ke dalam,” kata Guardiola. Ia menilai permainan terbuka memberi peluang untuk kedua tim, tetapi City tidak cukup tajam untuk menguasai situasi yang berkembang cepat.
Penurunan intensitas jadi sorotan utama
Guardiola juga mengakui para pemainnya kurang menunjukkan niat yang sama seperti pada babak pertama. Kondisi itu membuat City kehilangan kontrol pada momen krusial, padahal peluang untuk menutup laga dengan hasil lebih baik masih terbuka.
Everton, yang tampil lebih agresif dan intens, memanfaatkan momen itu untuk terus menekan. Perubahan ritme pertandingan menjadi titik penting yang menentukan bagaimana laga akhirnya berakhir imbang.
Hasil 3-3 ini kembali mempersempit ruang City dalam perburuan gelar. Guardiola menegaskan timnya harus terus berjuang agar tidak semakin tertinggal dalam persaingan yang masih berlangsung ketat.
