Gigi Berlubang Bukan Cuma Soal Nyeri, Ini Dampak yang Diam-Diam Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Gigi berlubang pada anak sering dianggap masalah kecil karena gejalanya tampak sederhana. Padahal, kondisi ini bisa memicu nyeri, mengganggu makan, menurunkan fokus belajar, dan ikut memengaruhi tumbuh kembang anak.

Data Hasil Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan 2025 juga menunjukkan bahwa karies atau gigi berlubang masuk dalam lima masalah kesehatan terbanyak pada anak di Indonesia. Temuan itu menegaskan bahwa persoalan gigi masih sangat dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari.

Dampaknya tidak berhenti di mulut

Gigi berlubang dapat membuat anak tidak nyaman saat mengunyah makanan. Jika nyeri muncul terus-menerus, anak bisa kesulitan makan dan berisiko kekurangan asupan yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.

Masalah ini juga dapat mengganggu konsentrasi saat belajar. Anak yang sedang tidak nyaman cenderung lebih mudah terdistraksi, sehingga aktivitas di sekolah maupun di rumah ikut terpengaruh.

Selain itu, gigi yang bermasalah bisa ikut memengaruhi rasa percaya diri anak. Rasa sakit atau ketidaknyamanan saat berbicara dan tersenyum dapat mengganggu interaksi sosial sehari-hari.

Temuan di sekolah ikut menunjukkan masalah ini masih nyata

Pemeriksaan gigi pada ratusan siswa SLB Negeri 02 Jakarta memperlihatkan kondisi kesehatan gigi yang beragam. Dokter gigi drg. Wuri Condro Gupito menyebut karies dan gigi berlubang sebagai temuan yang cukup banyak dalam pemeriksaan tersebut.

Ia mengatakan, “Dari pengecekan yang kami lakukan, sebagian besar siswa memiliki kondisi gigi yang beragam, termasuk karies dan gigi berlubang. Karena itu, pemeriksaan rutin sangat diperlukan untuk mencegah masalah menjadi lebih serius.”

Temuan itu menunjukkan bahwa gigi berlubang masih mudah ditemukan pada anak, termasuk pada kelompok anak berkebutuhan khusus. Kondisi ini membuat perhatian keluarga menjadi penting agar masalah tidak berkembang lebih jauh.

Perawatan dari rumah tetap jadi langkah utama

Perawatan gigi anak perlu dimulai dari rumah melalui kebiasaan yang konsisten. Orang tua dianjurkan mengajarkan teknik menyikat gigi yang benar dan memastikan anak melakukannya secara rutin.

Menurut drg. Wuri, anak sebaiknya menyikat gigi minimal dua kali sehari selama dua menit, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur. Kebiasaan sederhana ini membantu mencegah penumpukan plak yang bisa memicu kerusakan gigi.

Orang tua juga perlu membawa anak memeriksakan gigi ke dokter setiap enam bulan sekali. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi masalah sejak awal sebelum berkembang menjadi keluhan yang lebih berat.

3 teknik dasar menyikat gigi yang diajarkan

drg. Wuri menjelaskan tiga teknik dasar yang dapat diajarkan kepada anak agar kebersihan gigi lebih terjaga. Tiga gerakan ini bisa diterapkan secara sederhana dalam rutinitas harian.

TeknikFungsi
Gerakan memutarMembersihkan permukaan depan gigi
Gerakan atas-bawahMembersihkan sela dan bagian dalam gigi
Gerakan maju-mundurMembersihkan permukaan gigi kunyah

Teknik yang benar membantu anak membersihkan gigi lebih efektif dibanding sekadar menyikat dengan cepat. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan ini bisa menjadi perlindungan awal dari gigi berlubang.

Akses pemeriksaan juga ikut menentukan

Edukasi kesehatan gigi juga menjadi bagian dari kegiatan sosial bertajuk “Gigi Kuat dan Sehat Bersama” yang digelar Ciptadent bersama Kolese Kanisius. Dalam kegiatan itu, 238 siswa penyandang disabilitas intelektual dan disabilitas rungu dari SLB Negeri 02 Jakarta mendapat pemeriksaan dan pengobatan gigi gratis melalui Mobil Klinik Ciptadent.

Brand Manager Ciptadent, Listyannisa Retnolestari, menegaskan pentingnya akses kesehatan gigi bagi semua anak. “Kami percaya setiap anak Indonesia, termasuk anak berkebutuhan khusus, berhak memiliki gigi yang kuat dan sehat agar dapat tumbuh cerdas dan percaya diri,” katanya.

Langkah seperti pemeriksaan berkala, edukasi di rumah, dan akses layanan yang lebih mudah dapat membantu lebih banyak anak terhindar dari gigi berlubang. Dengan gigi yang sehat, anak akan lebih nyaman makan, lebih fokus belajar, dan lebih leluasa menjalani aktivitas harian.

Source: www.suara.com

Terkait