Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali naik setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa era kesepakatan sepihak sudah berakhir. Ia mendesak Washington untuk menepati janji atau menanggung akibatnya.
Pernyataan itu muncul saat Selat Hormuz kembali menjadi titik sensitif di tengah serangan rudal dan drone yang saling dilancarkan. Bagi Iran, pesan yang disampaikan Ghalibaf tampak diarahkan untuk menolak kompromi yang hanya memberi keuntungan pada satu pihak.
Ghalibaf Sorot Komitmen Washington
Dalam unggahan di platform X, Ghalibaf menulis, “Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan Anda, tepati janji Anda atau tanggung akibatnya. Kenyataan sudah di depan mata,” seperti dikutip Minggu, 12 Juli 2026.
Unggahan itu juga menampilkan gambar yang merujuk pada Pasal 5 dalam “Memorandum of Understanding Islamabad”, dokumen kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran yang diteken pada 18 Juni lalu. Pasal tersebut menyinggung pembukaan kembali Selat Hormuz dengan frasa “Republik Islam Iran akan membuat pengaturan”.
| Pokok Isi | Keterangan |
|---|---|
| Pernyataan Ghalibaf | AS diminta menepati janji atau menanggung akibatnya |
| Dokumen yang disorot | Memorandum of Understanding Islamabad |
| Pasal yang dikutip | Pasal 5 |
| Isi utama pasal | Pembukaan kembali Selat Hormuz |
| Tanggal penandatanganan | 18 Juni |
Serangan Saling Balas Memperkeruh Situasi
Eskalasi di kawasan Teluk terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan serta instalasi militer milik AS di sejumlah negara Teluk. AS kemudian membalas dengan babak ketiga serangan yang menyasar instalasi radar, rudal, dan drone di Iran selatan.
Menurut Komando Pusat AS atau CENTCOM, aksi itu dilakukan sebagai respons atas penembakan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. CENTCOM juga menyebut jalur laut strategis tersebut ditutup tanpa batas waktu yang jelas, sementara satu orang dilaporkan hilang.
Dalam laporan www.viva.co.id, Selat Hormuz menjadi latar utama dari pernyataan terbaru Ghalibaf karena jalur ini memegang peran penting bagi keamanan pelayaran dan stabilitas regional. Setiap gangguan di wilayah itu selalu memicu kekhawatiran yang lebih luas di kawasan Teluk.
Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Krusial
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis bagi arus pelayaran di kawasan Teluk. Karena itu, penutupan atau gangguan di sana segera memancing perhatian internasional dan meningkatkan risiko konflik lanjutan.
Dengan pernyataan terbarunya, Ghalibaf menempatkan tanggung jawab pada AS untuk menjalankan komitmen yang sudah disepakati. Sementara itu, situasi di lapangan masih bergerak cepat karena serangan dan balasan terus berlangsung di tengah status jalur laut yang belum jelas.
Source: www.viva.co.id






