Gencatan senjata di Timur Tengah kembali tampak rapuh ketika Amerika Serikat mengirim utusan ke Islamabad untuk membuka jalur pembicaraan baru dengan Iran. Di saat yang sama, serangan Israel di Lebanon masih menelan korban jiwa meski gencatan senjata dengan Hezbollah belum resmi berakhir.
Langkah diplomatik itu memperlihatkan bahwa Washington masih berupaya menahan eskalasi di tengah situasi kawasan yang bergerak cepat. Namun, sinyal dari Teheran belum sepenuhnya mendukung pembicaraan langsung, sehingga peluang terobosan masih terbuka sekaligus rawan gagal.
Utusan AS bergerak ke Islamabad
Gedung Putih mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad untuk melakukan “in-person conversation” dengan perwakilan Iran. Langkah ini diposisikan sebagai upaya mendorong babak baru negosiasi damai di tengah tensi yang masih tinggi.
Media pemerintah Iran menyebut pembicaraan langsung belum masuk rencana. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga telah tiba di Islamabad, sehingga pertemuan ini menjadi perhatian besar dalam upaya mencari jalan keluar diplomatik.
Tekanan terus menyertai jalur diplomasi
Di saat diplomasi dicoba, tekanan terhadap Iran juga tetap berjalan melalui jalur ekonomi dan politik. Amerika Serikat membekukan aset mata uang kripto senilai $344 juta untuk menambah tekanan terhadap Teheran di tengah gangguan pasokan energi akibat perang.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan langkah itu ditempuh karena Washington ingin mempersempit ruang gerak Iran. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa konflik di kawasan tidak hanya berlangsung lewat serangan bersenjata, tetapi juga melalui instrumen keuangan dan sanksi.
Lebanon tetap jadi titik rawan
Situasi di Lebanon menegaskan betapa rapuhnya gencatan senjata yang sedang berjalan. Kementerian kesehatan Lebanon menyebut serangan udara Israel menewaskan enam orang pada Jumat, dan dua orang lainnya terluka di Lebanon selatan.
Serangan itu terjadi meski gencatan senjata masih berlaku dalam perang yang telah berlangsung lebih dari enam pekan antara Israel dan Hezbollah. Fakta tersebut menunjukkan bahwa penurunan intensitas konflik belum sepenuhnya tercapai di lapangan.
Dampak konflik merembet ke sekutu Barat
Ketegangan juga memicu perdebatan di antara negara-negara Barat. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan negaranya adalah anggota NATO yang “reliable” setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan penangguhan status Spanyol karena menolak mendukung operasi militer terhadap Iran.
Reuters melaporkan seorang pejabat AS yang tidak disebut namanya mengatakan Pentagon telah menguraikan opsi penangguhan dalam email internal. Laporan ini memperlihatkan adanya gesekan di antara sekutu Barat dalam merespons perang US-Israel melawan Iran.
Ruang informasi ikut terdampak
Konflik ini juga menjalar ke ruang informasi dan kebebasan pers. Seorang jurnalis Amerika-Kuwait dibebaskan setelah ditahan selama berminggu-minggu di Kuwait, setelah sebelumnya dikaitkan dengan tindakan keras terhadap penyebaran gambar dan video perang US-Iran.
Pejabat Departemen Luar Negeri AS menyebut penahanan itu berkaitan dengan penyebaran materi yang dianggap sensitif. Ahmed Shihab-Eldin, yang pernah berkontribusi untuk The New York Times, PBS, dan Al Jazeera English, ditangkap pada 3 Maret dan dituduh menyebarkan informasi palsu, membahayakan keamanan nasional, serta menyalahgunakan ponselnya.
Rangkaian peristiwa ini menggambarkan konflik di Timur Tengah yang bergerak di banyak garis sekaligus, mulai dari meja perundingan, medan serangan, sampai tekanan ekonomi dan informasi. Dengan negosiasi yang belum pasti dan kekerasan yang masih terjadi di beberapa titik, arah situasi kawasan tetap bergantung pada langkah lanjutan para pihak yang terlibat.
