Gempa kembar di Venezuela kembali mengingatkan dunia bahwa dua guncangan besar yang datang beruntun bisa jauh lebih mematikan daripada satu gempa tunggal. Dalam selang sekitar 40 detik, M 7,2 disusul M 7,5 membuat kerusakan meluas dan respons darurat menjadi jauh lebih sulit.
Fenomena ini dikenal sebagai doublet earthquake, yaitu dua gempa besar yang muncul di lokasi berdekatan dalam waktu singkat. Pola seperti ini tidak hanya memperbesar kehancuran, tetapi juga mempersempit kesempatan bagi warga dan petugas untuk pulih sebelum guncangan berikutnya datang.
Kenapa gempa kembar lebih berbahaya
Secara ilmiah, gempa kembar terjadi ketika gempa pertama mengubah tegangan di sekitar patahan dan memicu segmen lain yang sudah rapuh untuk pecah. Akibatnya, energi tambahan dilepaskan dalam waktu yang sangat berdekatan dan beban kerusakan menumpuk lebih cepat.
Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menyebut pola ini sebagai pukulan ganda tektonik. Ia menilai kondisi tersebut menyulitkan proses pertolongan dan evakuasi karena guncangan kedua bisa datang saat situasi belum pulih.
Indonesia punya catatan serupa
Indonesia bukan wilayah asing bagi pola gempa beruntun. Sejumlah peristiwa besar menunjukkan karakter yang mirip dengan doublet earthquake, terutama di zona sesar aktif dan kawasan pertemuan lempeng.
Di Padang Panjang, gempa M 7,1 yang disusul M 7,2 pada Juni 1926 pernah memicu kerusakan luas. Pola serupa muncul lagi pada Maret 2007 di lokasi yang sama, ketika gempa M 6,4 diikuti M 6,3.
Peristiwa besar lain terjadi di Bengkulu pada September 2007. Gempa M 8,4 yang kemudian diikuti M 7,9 tidak hanya merusak daratan, tetapi juga memicu tsunami.
Catatan berikutnya datang dari Samudra Hindia barat Aceh pada April 2012, saat gempa M 8,6 disusul M 8,1 dan memicu tsunami kecil. Lombok juga mengalami pola serupa pada Agustus 2018, ketika gempa M 7,0 diikuti M 6,9 dan meluluhlantakkan permukiman.
Pelajaran dari Turki dan Venezuela
Pola gempa beruntun pernah memicu bencana besar di negara lain, termasuk Turki pada 6 Februari 2023. Gempa M 7,8 memecahkan hampir seluruh segmen Sesar Anatolia Timur dan memicu gempa M 7,5 pada jalur Sesar Surgu.
Rangkaian itu menimbulkan korban jiwa sangat besar, lebih dari 53.000 di Turki dan sekitar 6.000 hingga 8.000 di Suriah. Contoh tersebut menunjukkan bahwa dua guncangan besar dalam waktu singkat dapat memperluas skala bencana secara drastis.
Venezuela kini menambah daftar panjang peristiwa serupa. Guncangan beruntun di sana menjadi pengingat bahwa ancaman gempa kembar bukan hanya soal magnitudo, tetapi juga soal jeda waktu yang terlalu singkat untuk memberi kesempatan pemulihan.
Mitigasi harus siap untuk guncangan berantai
Ancaman gempa kembar menuntut cara pandang baru dalam kesiapsiagaan bencana. Daryono menilai konstruksi tidak boleh hanya dirancang untuk satu kali guncangan puncak, melainkan harus tetap menjaga integritas struktural setelah gempa pertama.
Penilaian cepat terhadap kondisi bangunan juga menjadi langkah penting sebelum warga kembali masuk. Kerusakan yang tidak terlihat bisa berubah fatal saat gempa kedua datang.
Bangunan vital seperti rumah sakit, sekolah, dan jalur evakuasi perlu mendapat perhatian lebih besar. Jika fasilitas ini ikut lumpuh, proses evakuasi dan layanan darurat akan semakin berat saat kebutuhan justru sedang tinggi.
Masyarakat juga perlu mengubah asumsi bahwa gempa susulan pasti lebih kecil dari gempa utama. Dalam pola gempa kembar, guncangan berikutnya bisa setara atau mendekati kekuatan gempa awal, sehingga kewaspadaan tidak boleh turun terlalu cepat setelah getaran pertama berhenti.
Source: www.beritasatu.com





